Tag Archive | Taisirul ‘Allam

Hukum Bayar Zakat Sebelum Waktunya

الحديث السبعون بعد المائة

.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَقِيلَ : مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَ العَبَّاسُ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ تعالى. وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا فقَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَ أَعْتَادَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْعَبَّاسُ فَهِيَ عَلَيَّ وَ مِثْلُهَا

((ثم قال : ((يا عمر أمّا علمت أنّ عمّ الرجل صنو أبيه

“dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Umar untuk menarik zakat. Lalu dikatakan kepada Beliau bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Al Walid dan ‘Abbas paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau mengeluarkan zakat. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Ibnul jamil tidak berbuat salah kecuali dahulunya dia itu seorang faqir namun kemudian Allah Ta’ala menjadikannya kaya. Adapun Khalid, sungguh kalian telah menzhalimi Khalid, padahal dia telah mewakafkan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk berjuang di jalan Allah. Adapun ‘Abbas maka aku yang akan menanggung zakatnya dan juga kewajiban lain serupa zakat (sebagai kemuliaan) “.

Kemudian beliau berkata : “Ya Umar, tidak tahukah engkau bahwa paman seseorang itu seperti ayahnya”[1] Baca Lanjutannya…

Yahudi Berzina Dirajamkah Sesuai Islam?

الحديث الثامن و الاربعون بعد الثلاثمائة

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ : إَنَّ الْيَهُودَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ : أَنَّ امْرَأَةً مِنْهُمْ رَجُلًا وَ زَنَيَا.

فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “مَا تَجِدُونَ فِي التَّوْرَاةِ فِي شَأْنِ الرَّجْمِ” فَقَالُوا: نَفْضَحُهُمْ وَيُجْلَدُونَ

فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ: كَذَبْتُمْ إِنَّ فِيهَا آيَةَ الرَّجْمِ, فَأَتَوْا بِالتَّوْرَاةِ فَنَشَرُوهَا فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ فَقَرَأَ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا

فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ: “ارْفَعْ يَدَكَ” فَرَفَعَ يَدَهُ فَإِذَا فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ

فَقَالَ: صَدَقَ يَا مُحَمَّدُ

فَأَمَرَ بِهِمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَا

قَالَ: فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَجْنَأُ عَلَى الْمَرْأَةِ يَقِيهَا الْحِجَارَةَ

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الَّذِى وَضَعَ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ هوَ عَبْدُ الله بنُ صُوريَا

dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bercerita bahwa ada seorang wanita dari kalangan mereka dan seorang laki-laki berzina. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka; “Apa yang kalian dapatkan dalam Kitab Taurat tentang permasalahan hukum rajam?”. Mereka menjawab; “Kami mempermalukan (membeberkan aib) mereka dan mencambuk mereka”. Maka Abdullah bin Salam berkata; “Kalian berdusta. Sesungguhnya di dalam Kitab Taurat ada hukuman rajam. Coba bawa kemari kitab Taurat. Maka mereka membacanya saecara seksama lalu salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya pada ayat rajam, dan dia hanya membaca ayat sebelum dan sesudahnya. Kemudian Abdullah bin Salam berkata; “Coba kamu angkat tanganmu”. Maka orang itu mengangkat tangannya, dan ternyata ada ayat tentang rajam hingga akhirnya mereka berkata; “Dia benar, wahai Muhammad. Di dalam Taurat ada ayat tentang rajam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kedua orang yang berzina itu agar dirajam”. Abdullah bin ‘Umar berkata; “Dan kulihat laki-laki itu melindungi wanita tersebut agar terhindar dari lemparan batu”.[1]

Perowi berkata: “Orang yang meletakkan tangannya di atas ayat rajam adalah Abdullah bin Shuriyaa” Baca Lanjutannya…

Mengaku Berzina Harus Empat Kali?

الحديث السادس والاربعون بعد الثلاثمائة

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَى رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَنَادَاهُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي زَنَيْتُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ. فَتَنَحَّى تِاْقَاءَ وَجْهِهِ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي زَنَيْتُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ. حَتَّى ثَنَّى ذلكَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

الحديث السابع والاربعون بعد الثلاثمائة

فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ دَعَاهُ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : “أَبِكَ جُنُونٌ” قَالَ لَا. قَالَ : “فَهَلْ أَحْصِنْتَ؟” قَالَ : نَعَمْ. فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ”

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ : فَأَخْبَرَنِي أبُو سَلَمَةَ بنُ عَبْدِ الرَحْمنِ : أنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُوْلُ : كُنْتُ فِيمَنْ رَجَمَهُ فَرَجَمْنَاهُ بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ هَرَبَ فَأَدْرَكْنَاهُ بِالْحَرَّةِ فَرَجَمْنَاهُ

الرَجُلُ هُوَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ. وَ رَوَى قِصَّتَهُ, جَابِرِ بْنُ سَمُرَةَ وَ عَبْدُ الله بْنُ عَبَّاسٍ, وَ أبُو سَعِيدٍ الخُدرِى, وَ بُرَيدَةُ بنُ الحُصَيبِ الأسْلَمِى

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan; Seseorang mendatangi Rasulullah yang ketika itu sedang berada di masjid. Dia menyeru beliau dan berkata; “Ya Rasulullah, aku telah berzina”. Lalu Rasulullah berpaling darinya, maka dia bergeser menghadap wajah Nabi dan ia berkata: “Ya Rasulullah, aku telah berzina”. Lalu Rasulullah berpaling darinya. Tetapi dia tetap mengulanginya sebanyak empat kali. Setelah ia bersaksi empat kali atas dirinya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bertanya; “apakah kamu mengalami sakit gila?” ‘Tidak’ jawabnya.”Kamu sudah menikah?” Tanya Nabi. ‘Ya’ jawabnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “pergilah kalian bersama orang ini, dan rajamlah ia!” Ibnu Syihab mengatakan; “Abu Salamah bin Abdurrohman bercerita kepadaku bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdulloh radhiyallahu ‘anhu berkata; “Aku diantara orang-orang yang merajamnya, kami merajamnya di mushalla[1]. Setelah dia terkena lemparan batu, dia melarikan diri, maka kami menangkapnya di Harrah[2] dan kami merajamnya.”[3] [4]

Laki-laki dalam hadits yang dimaksud adalah Ma’iz bin Malik. Kisahnya diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, Abdullah bin Abbas, Abu Sa’id Al Khudry, dan Buraidah bin Al Hushaib Al Aslamy”[5] Baca Lanjutannya…

Budak Wanita Yang Seharga Seutas Tali

الحديث الخامس والاربعون بعد الثلاثمائة

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُوْدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِّى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : سُئِلَ النَبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْأَمَةِ إِذَا زَنَتْ وَلَمْ تُحْصَنْ؟ قَالَ :”إِنْ زَنَتْ فَاجْلِدُوهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتْ  فَاجْلِدُوهَا ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَاجْلِدُوهَا ثُمَّ بِيعُوهَا وَلَوْ بِضَفِيرٍ”

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ :”ولَا أَدْرِي أَ بَعْدَ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ”

و الضَفِيْرِ الحَبْلُ

dari ‘Ubaidullah dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang budak wanita bila berzina sedangkan dia belum menikah, maka Beliau bersabda: “Jika dia berzina maka cambuklah ia, kemudian bila berzina lagi maka cambuklah ia, kemudian bila berzina lagi maka cambuklah ia, kemudian dijual sekalipun seharga seutas tali”.[1]
Ibnu Syihab berkata: “Aku tidak tahu apakah dia dijual setelah tiga kali atau empat kali berzina”.

Makna الضَفِيْرِ adalah seutas tali. Baca Lanjutannya…

Penjelasan Tentang Niat

بسم الله الرحمن الرحيم

كتاب الطهارة

الحديث الاول

عن أمير المؤمنين أبى حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول (( إنما الاعمال بالنيات, و إنما لكل امرىء ما نوى, فمن كانت هجرته إلى الله و رسوله فهجرته إلى الله و رسوله, ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فا هجرته إلى ما هاجر اليه))[1

Penjelasan hadits

  1. Kata “إنما” memberi faidah pembatasan (الحصر), yaitu menetapkan bahwa amal itu tergantung niatnya. Maka dalam ungkapan yang lebih jelas, “Tidak ada amal kecuali dengan niat”. Baca Lanjutannya…
%d blogger menyukai ini: