Arsip | Ushul Fiqh RSS for this section

Kaidah Penting : Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan

Diantara kaidah fiqih penting adalah :

اليقين لا يزول بالشك

“Keyakinan tidaklah bisa dihilangkan dengan keraguan”

Para fuqaha memasukkan berbagai amalan ibadah, mu’amalah, dan hak-hak sesama ke dalam kaidah ini. Maka barangsiapa yang ragu akan sesuatu, maka dikembalikan lagi ke asalnya, yakni yang yakin. Baca Lanjutannya…

Iklan

Lafazh-lafazh Yang Menunjukkan Makna Umum

Dalam dalil-dalil syari’at, ada lafazh-lafazh yang menunjukkan makna umum, artinya menyeluruh. Di antara shighoh yang menunjukkan makna umum adalah :

  1. Lafazh كل (kullu) dan جميع (jamii’)

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imraan : 185)

Maka kata  كل (kullu) menunjukkan makna umum, yakni semua jiwa akan merasakan yang namanya kematian. Baca Lanjutannya…

Hukum Asal Perintah dan Larangan

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullahu mengatakan :

“Hukum asal perintah yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah wajib, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa hukumnya adalah sunnah atau mubah.

Dan hukum asal larangan yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah haram, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa hukumnya adalah makruh” Baca Lanjutannya…

Pengertian Manthuq dan Mafhum

Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata :

Hukum-hukum syari’at terkadang disimpulkan dari manthuq-nya, yakni teks dalil yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu.

Dan terkadang diambil dari mafhum-nya, yakni (sesuatu yang dipahami dari makna dalil dan bukan dari teksnya-ed) yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu.

Dengan mafhum muwafaqoh jika mafhum-nya tersebut hukumnya sama dengan manthuq-nya atau lebih tinggi lagi.

Atau dengan mafhum mukholafah jika hukum mafhum-nya berlawanan dengan manthuq-nya. Bisa jadi karena manthuq dalil disifati dengan sifat tertentu atau diberi syarat dengan syarat tertentu lalu mafhum dalil menyelisihi sifat atau syarat yang ada pada manthuq sehingga hukum keduanya menjadi berbeda atau berlawanan. Baca Lanjutannya…

Pengertian Nash dan Zhahir

Alhamdulillah, pelajaran ushul fiqih kali ini sudah sampai kepada pembahasan tentang kandungan makna dalam suatu lafazh atau teks dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. Di mana kandungan makna dalil suatu teks dalil ada dua jenis, yakni النص (nash) dan الظاهر (zhahir). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata:

Hukum-hukum syari’at terkadang diambil dari nash Al Qur’an dan As Sunnah, yakni teks dalil yang maknanya jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lainnya. Dan hukum syari’at terkadang diambil dari zhahir teks Al Qur’an dan As Sunnah, yakni teks yang menunjukkan pada suatu makna tertentu berdasarkan keumuman lafazhnya (‘umumul lafzhiy) atau berdasarkan keumuman maknanya (‘umumul ma’nawiy). Baca Lanjutannya…

Hukum Suatu Sarana Tergantung Hukum Tujuannya

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu mengatakan :

Dalam perkara mubah : sesungguhnya syari’at membolehkan dan mengizinkan perbuatan tersebut. Dan terkadang perkara mubah tersebut mengantarkan kepada kebaikan sehingga mubah digabungkan dengan perkara yang diperintahkan. Dan terkadang perkara mubah mengantarkan kepada keburukan sehingga digabungkan dengan perkara yang dilarang.

Maka ini adalah sebuah kaidah agung :

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum suatu sarana itu tergantung hukum tujuannya”

Dengan kaidah ini kita ketahui bahwa :

  • Sarana dari perbuatan wajib maka hukumnya adalah wajib.
  • Sarana dari perbuatan sunnah adalah sunnah.
  • Sarana terwujudnya suatu keharaman adalah haram.
  • Sarana dari perbuatan makruh adalah makruh. Baca Lanjutannya…

Bertingkatnya Hukum-hukum Syari’at

Kaum muslimin rahimakumullahu, insya Allah kita lanjutkan pelajaran ushul fiqih dari kitab Jam’ul Mahshul fi Syarhi Risalati Ibni Sa’di fil Ushul. Untuk mencari seluruh pelajaran dari pembahasan ini silakan lihat di tag “Jam’ul Mahshul” atau kategori “Ushul Fiqih”.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata :

Hukum-hukum syari’at yang lima ini (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang banyak tergantung keadaannya, tingkatannya, ataupun dampaknya. Perhatikan kaidah ini :

Jika ada suatu perbuatan yang memiliki mashlahat yang murni tanpa ada mafsadatnya ataupun mashlahatnya lebih banyak daripada mafsadatnya, maka syari’at memerintahkan perbuatan tersebut dengan perintah wajib ataupun sunnah.

Adapun jika perbuatan tersebut memiliki mafsadat yang murni tanpa ada mashlahatnya atau mafsadatnya lebih banyak daripada mashlahatnya, maka syari’at melarang perbuatan tersebut dengan mengharamkannya atau memakruhkannya.

Ini adalah kaidah yang meliputi seluruh perkara yang diperintahkan maupun yang dilarang. Baca Lanjutannya…

Hukum-hukum Syari’at

Syaikh Al Ushuly Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata:

Hukum-hukum yang terdapat di bab Fiqih ada lima:

1.       Wajib : Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggal mendapat dosa

2.       Haram : Kebalikan wajib

3.       Sunnah : Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggal tidak berdosa

4.       Makruh : Kebalikan sunnah

5.       Mubah : Sama-sama tidak diganjar apapun baik dikerjakan maupun tidak

Wajib sendiri terbagi menjadi dua :

1.      Fardhu ‘ain : Wajib dikerjakan oleh setiap mukallaf, yakni orang yang baligh dan berakal. Kebanyakan hukum wajib adalah jenis ini, yakni fardhu ‘ain

2.      Fardhu kifayah : Perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan oleh sebagian mukallaf, tidak setiap individu.

Contoh : belajar ilmu-ilmu yang mendetail, ilmu industri yang manfaat, adzan, amar ma’ruf dan nahi munkar, hukumnya fardhu kifayah Baca Lanjutannya…

Belajar Ushul Fiqih

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله, نحمده على ما له من الاسماء الحسنى, و صفات الكاملة العليا, و على احكامه القدرية العامة لكل مكون موجود, , احكامه الشرعية الشاملة لكل مشروع, و احكامه الجزاء باثواب للمحسنين, و العقاب للمجرمين.

و اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له في الاسماء و الصفات و العبادة و الاحكام, و اشهد ان محمدا عبده و رسوله الذي بين الحكم و الاحكام, و وضح الحلال و الحرام, و اصل الاصول و فصلها, حتى استتم هذا الدين و استقام, اللهم صل و سلم على محمد و على اله و اصحابه و اتباعه, خصوصا العلماء الاعلام.

اما بعد : فهذه رسالة لطيفة في اصول الفقه, سهلة الالفاظ, واضحة المعاني, معينة على تعلم الاحكام لكل متامل معاني, نسال الله ان ينفع بها جامعها و قارئها, انه جواد كريم.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya atas nama-nama-Nya yang terindah, sifat-sifat-Nya yang sempurna lagi tinggi, atas hukum-hukum qadariyyah yang bersifat umum yang mencakup semua makhluq yang ada, dan atas hukum-hukum syari’at yang meliputi segala hal yang disyari’atkan, dan atas hukum-hukum tentang balasan suatu amal dengan pahala bagi muhsinin dan balasan berupa hukuman bagi orang-orang yang berdosa.

Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam nama-Nya dan juga sifat-Nya, dan juga dalam ibadah, dan juga tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kewenangan dalam menetapkan hukum. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang mnejelaskan hikmah-hikmah dan hukum-hukum, menerangkan halal dan haram, meletakkan dasar-dasar hukum dan merincinya, sehingga sempurnalah agama ini dan tegak berdiri di atasnya. Semoga Allah menyanjung dan memberikan salam kepada Nabi Muhammad dan juga keluarganya, shahabatnya, dan pengikutnya khususnya para ulama yang mana mereka ibarat rambu-rambu dalam kehidupan ini.

Amma ba’du : ini adalah risalah yang ringkas tentang ushul fiqih, kalimatnya mudah dipahami, jelas maknanya, membantu setiap orang yang mau merenungkan dan memperhatikan untuk mempelajari berbagai hukum. Kami mohon kepada Allah agar memberikan manfaat orang yang menulisnya dan yang membacanya dengan sebab risalah ini. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Mulia. Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: