Arsip | Tematik RSS for this section

Menyekutukan Allah Dengan Ulama

Keberadaan ulama dalam umat ini adalah sebuah keberkahan yang akan membawa kebaikan bagi umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Merekalah yang meneruskan estafet dakwah para nabi dalam rangka meninggikan kalimat tauhid di muka bumi. Akan tetapi, dengan berbagai keutamaan yang terdapat dalam diri seorang ulama, mereka tetaplah berbeda dengan nabi. Jika nabi itu ma’shum, maka ulama tidaklah ma’shum. Seorang ulama bisa saja tergelincir dalam suatu permasalahan. Maka yang wajib bagi kita adalah mengikuti apa yang sesuai dengan Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun kita harus menyelisihi ulama yang tergelincir tersebut, meskipun mengaku keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa pun kita mencintai dan menyanjungnya. Baca Lanjutannya…

Iklan

Dialah Orang Yang Asing Itu…

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya[1] :

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad dan Ibnu Abi ‘Umar, semuanya dari jalan Marwan Al Fazary. Ibnu ‘Abbad berkata : Telah menceritakan kepada kami Marwan, dari Zaid yakni Ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing. Dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya. Maka bahagialah orang-orang asing tersebut” (HR. Muslim) Baca Lanjutannya…

(Selingan) Mereka, Semangat, dan Menjaga Waktu

Diantara manfaat membaca kisah-kisah orang lain yang Allah Ta’ala berikan kelebihan kepada dirinya adalah mengingkatkan semangat kita dalam berbagai hal, baik beribadah, menuntut ilmu, berdakwah, menulis, atau lainnya. Saya mendapatkan cerita yang ringkas sekali tetapi menurut saya kisah tersebut menambah semangat kita terutama untuk menuntut ilmu dan menjaga waktu. Saya dapatkan dua kisah ini dari orang-orang yang menurut saya hebat dan inspiratif juga, Al Akh Al Fadhil Wira Mandiri Bachrun dan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahumallah dari akun jejaring sosial facebook milik mereka. Al Akh Wira Mandiri Bachrun adalah alumnus UGM dan sekarang menuntut ilmu di Darul Hadits, Syihr, Yaman. Sedangkan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal adalah lulusan Teknik Kimia UGM yang sekarang meneruskan studi S2 Teknik Kimia di King Saud University, Riyadh. Dan beliau rutin menghadiri durus Syaikh Al ‘Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah. Baca Lanjutannya…

Mutiara Faidah Hadits Arba’in 18 : Bertaqwa Kepada Allah Di manapun Berada

عن أبي ذر جندب بن جنادة، وأبي عبد الرحمن معاذ بن جبل رضي الله تعالى عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن. (رواه الترمذي وقال: “حديث حسن”، وفي بعض النسخ: “حسن صحيح”)

Dari Abu Dzar -Jundub bin Junadah, dan Abu ‘Abdirrahman –Mu’adz bin Jabal radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada. Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapus perbuatan buruknya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata : “Hadits hasan”, dalam manuskrip lain : “Hadits hasan shahih”) Baca Lanjutannya…

Mutiara Faidah Hadits Arba’in 17 : Anjuran Berbuat Ihsan Dalam Segala Hal

عن أبي يعلى شداد بن أوس رضي الله تعالى عنه عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال إن الله كتب الإحسان على كل شئ، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة، وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته. (رواه مسلم)

Dari Abu Ya’la –Syaddad bin Aus radhiyallahu Ta’ala  ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan kepada segala sesuatu. Jika kamu membunuh, maka baguskanlah cara membunuhmu. Jika kamu menyembelih, maka baguskanlah cara menyembelihmu, dan hendaknya kalian mempertajam pisau kalian dan meringankan hewan sembelihannya” (HR. Muslim) Baca Lanjutannya…

Warna-Warni Riya’ Dalam Lapangan Ilmu

Diantara hal yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takutkan menimpa umat beliau adalah syirik kecil, yaitu riya’. Beliau bersabda,

“إنّ أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر”. قالوا : “و ما الشرك الأصغر يا رسول الله؟” قال : “الريا”

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Para shahabat bertanya : “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “(yaitu) riya“. (HR. Ahmad; dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 32)

Bahaya riya’ memang sangat besar. Ditambah lagi dengan samarnya keberadaan riya’ pada diri seseorang sehingga terkadang seseorang tidak sadar dirinya sedang terjangkiti virus riya’. Ia mengira ia aman dari riya’, tetapi ternyata ia sudah masuk perangkap iblis dan berbangga dengan ilmu dan amalnya, senang dipuji, senang dikatakan seorang ikhwan yang banyak hafalannya, dan sebagainya. Allahul musta’an. Baca Lanjutannya…

Meraih Kesempurnaan Tauhid

الحمد لله الذي لم يتخذ ولدًا ولم يكن له شريك في الملك ولم يكن له وليٌّ من الذل وكبره تكبيرًا .

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له . وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم تسليمًا كثيرًا . أما بعد

Tauhid merupakan kunci kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Para rasul ‘alayhimus shalatu wa sallam semuanya diutus untuk mendakwahkan tauhid kepada umatnya agar umatnya hanya beribadah kepada Allah Ta’ala saja. Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: