Menumbuhkan Buah Ilmu (1) : Kedudukan Ilmu Dan Orang Berilmu

Keutamaan Ilmu dan Orang Yang Berilmu

Tidaklah samar bagi seorang muslim bahwasanya ilmu memiliki kedudukan yang agung dan tinggi di dalam agama. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan seorang hamba menuju Rabb-nya. Tidaklah mungkin syari’at Islam ditegakkan dan penghambaan seseorang kepada Rābb-nya –dimana untuk tujuan inilah seorang hamba tercipta di dunia- terwujud kecuali dengan ilmu.  Oleh karena itulah, Allāh Subhānahu wa Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ilmuilah (ketahuilah) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, dan mohon ampunlah kepada-Nya dari dosamu serta untuk kaum mukminin dan mukminat” (QS. Muhammad : 19)

Maka di dalam ayat yang mulia ini, Allāh memulainya dengan ilmu terlebih dahulu sebelum menyebutkan sebuah kalimat yang menjadi kunci surga, yakni kalimat tauhid laa ilaaha illallāh.

Cukuplah sebuah ayat di dalam Al Qur’an yang menegaskan keutamaan orang-orang yang berilmu ketika Allāh Ta’ala menyertakan persaksian orang yang berilmu dengan persaksian-Nya pada sebuah perkara yang paling agung, yakni persaksian akan keesaan Allāh Tabaarāka wa Ta’ala, dimana Allāh berfirman,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allāh bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, begitu juga para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan juga bersaksi demikian. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali ‘Imrān : 18)

Adapun hadits Nabi shāllallāhu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan keutaaman ilmu dan orang yang berilmu adalah sangat banyak. Cukuplah sebuah hadits yang agung dari shāhabat Abu Darda’ rādhiyallāhu ‘anhu yang akan dibawakan, dimana Nabi ‘alaihis shālatu was salaam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلتمسُ فِيهِ عِلْمًا سَهّلََ اللهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بما يصنع، وَإِنَّ العالم لَيَسْتَغْفِرُ له مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ ليلة البدر عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، و إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، فإن الْأَنْبِيَاء لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَه، أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allāh akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

Sesungguhnya para malaikat menaungi penuntut ilmu dengan sayap-sayap mereka karena ridhā terhadap apa yang mereka lakukan.

Sesungguhnya orang-orang yang berilmu akan dido’akan ampunan oleh para penghuni langit dan bumi, sampai ikan yang ada di air sekalipun.

Keutamaan orang yang berilmu dibanding orang yang rajin ibadah adalah sebagaimana keutamaan bulan ketika purnama dibandingkan seluruh bintang di langit.

Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya. Dinilai hasan lighāirihi oleh Syaikh Al Albani)

Ilmu dan Amal Adalah Tujuan Diciptakannya Manusia

                Sesungguhnya Rābb kita, Allāh Jalla wa ‘Alaa menciptakan manusia untuk ilmu dan amal, yakni agar manusia mengenal Allāh (ilmu) dan beribadah kepada-Nya semata (amal).

Allāh Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

 “Allāh yang menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Perintah Allāh berlaku padanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allāh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan ilmu Allāh meliputi segala sesuatu” (QS. Ath Thālaq : 12)

Allāh Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Maka ilmu dan amal (ibadah) adalah tujuan penciptaan makhluk. Dan sebuah ibadah haruslah dikerjakan atas dasar ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan seorang hamba kepada Rābb-nya. Barangsiapa yang berilmu kemudian mengamalkan ilmunya, berarti dia telah mewujudkan tujuan penciptaan dirinya.

Dimurkai Karena Tidak Beramal dan Sesat Karena Tidak Berilmu

Allāh Ta’ala berfirman,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Ya Allāh, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yakni jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat” (QS. Al Fatihah : 6-7)

Di dalam ayat terakhir surat Al Fatihah tersebut, Allāh Ta’ala menyebutkan 3 golongan :

  • Golongan yang diberikan nikmat, mereka inilah orang-orang yang berilmu kemudian mengamalkannya
  • Golongan yang dimurkai, mereka adalah yahudi, berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya
  • Golongan yang sesat, mereka adalah nasrani, beramal tanpa dasar ilmu

Sufyan bin ‘Uyainah rāhimahullāh berkata,

من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود. و من فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى

“Orang yang rusak dari kalangan ulama kita, maka padanya ada kemiripan dengan yahudi. Dan orang yang rusak dari ahli ibadah kita, maka padanya ada kemiripan dengan nasrani”

Karena yahudi adalah orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya. Sedangkan nasrani adalah orang yang beramal tanpa landasan ilmu.

Bersambung dengan pembahasan ancaman keras bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya, insya Allah…

Ya Allāh, ajarilah kami segala yang bermanfaat bagi diri kami. Dan berikanlah manfaat kepada kami dari apa yang telah Engkau ajarkan. Dan tambahkanlah ilmu kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

(Disarikan dari Tsamarātul ‘Ilmi Al ‘Amal karya Syaikh ‘Abdurrāzzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr hafizhāhumallāhu dengan perubahan)

Tag:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: