Archive | Oktober 2012

Menumbuhkan Buah Ilmu (2) : Buah Ilmu Adalah Amal

Buah Ilmu Adalah Amal

Al Khātib Al Baghdadi rāhimahullāhmengatakan,

فإن العلم شجرة, و العمل ثمرة. و ليس يعدّ عالما من لم يكن بعلمه عاملا

“Sesungguhnya ilmu adalah pohon, sedangkan amal adalah buahnya. orang yang tidak mengamalkan ilmunya tidaklah dianggap sebagai orang yang berilmu” (Iqtidhā-ul ‘Ilmi Al ‘Amal, hal. 18)

‘Abdullah Ibnul Mu’tazzi rāhimahullāhmengatakan,

علم بلا عمل كشجرة بلا ثمرة

“Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah”

Seorang Hamba Akan Ditanya Tentang Ilmunya

Dari Abu Barzah Al Aslami rādhiyallāhu ‘anhu, Nabi shāllallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أربع – و ذكر منها عليه الصلاة و السلام- : عن علمه ما ذا عمل به

“Telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya tentang empat hal : (salah satunya adalah) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya tersebut?” (HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar : “hadits hasan shāhih”)

Abu Darda’ rādhiyallāhu ‘anhu mengatakan,

إنما أخشى يوم القيامة أن يناديني ربي على رؤوس الخلائق,فيقول : يا عويمر! ما ذا عملت فيما علمت؟

“Sesungguhnya yang aku takutkan hanyalah ketika Rābb-ku memanggilku di hadapan seluruh manusia di hari kiamat kelak, kemudian Dia bertanya : ‘Wahai ‘Uwaimir (Abu Darda’), apa yang telah kamu amalkan dari ilmumu?” Baca Lanjutannya…

Menumbuhkan Buah Ilmu (1) : Kedudukan Ilmu Dan Orang Berilmu

Keutamaan Ilmu dan Orang Yang Berilmu

Tidaklah samar bagi seorang muslim bahwasanya ilmu memiliki kedudukan yang agung dan tinggi di dalam agama. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan seorang hamba menuju Rabb-nya. Tidaklah mungkin syari’at Islam ditegakkan dan penghambaan seseorang kepada Rābb-nya –dimana untuk tujuan inilah seorang hamba tercipta di dunia- terwujud kecuali dengan ilmu.  Oleh karena itulah, Allāh Subhānahu wa Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ilmuilah (ketahuilah) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, dan mohon ampunlah kepada-Nya dari dosamu serta untuk kaum mukminin dan mukminat” (QS. Muhammad : 19)

Maka di dalam ayat yang mulia ini, Allāh memulainya dengan ilmu terlebih dahulu sebelum menyebutkan sebuah kalimat yang menjadi kunci surga, yakni kalimat tauhid laa ilaaha illallāh. Baca Lanjutannya…

Seputar Hadits Qudsi

Pengertian Hadits Qudsi

Hadits qudsi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para ulama sepakat bahwa hadits qudsi bukanlah Al Qur’an meskipun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkannya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bentuk Periwayatan Hadits Qudsi

Para perawi hadits qudsi ketika meriwayatkan hadits qudsi, memiliki dua model/bentuk kalimat periwayatan, yaitu :

  • قال رسول الله فيما يرويه عن ربه عز و جلّ

“Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza wa Jalla…”

  • قال الله ثعالى فيما رواه عنه ؤسوله

“Allah Ta’ala berfirman dalam hadits yang diriwayatkan oleh Rasulullah dari-Nya…”

Jumlah Hadits Qudsi

Jumlah hadits qudsi jika dibandingkan dengan hadits Nabi lainnya tidaklah banyak. Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: