Ahli Bid’ah Yang Mendapat Pahala Atas Niat Baiknya

Perbuatan bid’ah adalah perbuatan yang tercela di dalam Islam dan termasuk perbuatan yang membatalkan konsekuensi syahadat Muhammad adalah Rasulullah. Para salaf telah memberikan teguran dan sikap keras terhadap pelaku kebid’ahan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa tidak semua orang yang berbuat bid’ah harus kita sikapi dengan keras semua. Ini sesuatu yang tidak tepat. Ada sebagian ahli bid’ah yang memang belum tahu bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah sesuatu yang tidak ada contohnya dan menyelisihi sunnah Nabi. Mereka ini bisa jadi malah mendapat pahala atas niat baik mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan menarik seputar ahli bid’ah jenis ini di dalam kitab beliau Al Qaulul Mufiid ‘alaa Kitaab At Tauhid.

Beliau rahimahullah mengatakan :

فالمبتدعون قد يقال: إنهم يثابون على حسن نيتهم إذا كانوا لا يعلمون الحق، ولكننا نخطئهم فيما ذهبوا إليه،

“Terkadang boleh jadi kita katakan kepada pelaku bid’ah : Sesungguhnya mereka diganjar pahala karena niat baik mereka jika memang tidak mengetahui kebenaran. Akan tetapi kita salahkan mereka atas kelirunya jalan yang mereka tempuh”

  • Dari perkataan beliau ini dapat kita petika faidah bahwa pelaku bid’ah bisa saja mendapat pahala karena mereka telah berniat baik mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan syarat dia adalah ahli bid’ah yang sama sekali tidak mengetahui kebenaran. Tetapi hal tersebut tidaklah boleh menghalangi kita untuk menerangkan kepada mereka bahwa jalan yang mereka tempuh adalah menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أما أئمتهم الذين علموا الحق، ولكن ردوه ليبقوا جاههم، ففيهم شبه بأبي جهل، وعتبة بن ربيعة، والوليد بن المغيرة، وغيرهم الذين قابلوا رسالة النبي صلى الله عليه وسلم بالرد إبقاء على رئاستهم وجاههم.

“Adapun para tokoh ahli bid’ah yang mana mereka telah mengetahui kebenaran tetapi enggan mengikutinya karena takut kehilangan kedudukan, maka mereka serupa dengan Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Al Walid bin Al Mughiroh, dan orang yang sejenis dengan mereka dimana mereka mengakui risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi menolak menjalaninya karena ingin mempertahankan status kepemimpinan mereka dan kedudukan mereka”

  • Dari sini kita ambil faidah bahwa ada dua sikap terhadap dua jenis ahli bid’ah yang berbeda. Sikap pertama sudah dijelaskan sebelumnya. Adapun sikap kedua yang ditujukan kepada para pemimpin ahli bid’ah yang mana mereka telah mengetahui kebenaran, mereka itulah yang tidak dapat diberikan udzur, dan mereka tidak akan mendapat ganjaran meski niatnya baik, bahkan mendapat dosa karena mereka telah menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah padahal telah tahu kebenaran.

أما بالنسبة لأتباع هؤلاء الأئمة، فينقسمون إلى قسمين:

·         القسم الأول: الذين جهلوا الحق، فلم يعلموا عنه شيئا، ولم يحصل منهم تقصير في طلبه، حيث ظنوا أن ما هم عليه هو الحق، فهؤلاء معذورون.

القسم الثاني: من علموا الحق، ولكنهم ردوه تعصبا لأئمتهم، فهؤلاء لا يعذرون، وهم كمن قال الله فيهم: {إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ}

“Adapun jika ditinjau dari orang-orang yang mengikuti para tokoh ahli bid’ah di atas, mereka terbagi menjadi dua golongan :

  • Golongan pertama : yakni mereka yang tidak mengetahui kebenaran sama sekali padahal sudah berusaha maksimal mencarinya, dan mereka menyangka apa yang mereka yakini atau lakukan adalah kebenaran. Mereka inilah yang mendapat udzur (karena niat baik mereka)
  • Golongan kedua : yakni mereka yang mengetahui kebenaran, tetapi mereka menolak kebenaran tersebut karena fanatic buta terhadap pemimpin/tokoh mereka. Mereka inilah yang tidak mendapatkan udzur. Mereka sebagaimana orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka (yang artinya) : “Sesungguhnya kami dapati nenek moyang kami memeluk satu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk menapaki jejak mereka” (QS. Azh Zukhruf : 22)”

Dari penjelasan beliau, kita tahu bahwa ada dua macam ahli bid’ah, yakni para tokoh bid’ah dan pengikutnya. Untuk tokoh ahli bid’ah yang mana mereka sudah tahu kebenaran tetapi enggan mengikutinya, maka tidak ada udzur, mereka tidak akan mendapat ganjaran bahkan berdosa karena sengaja menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun para pengikut tokoh tersebut, maka ada dua kondisi :

–          Jika memang tidak tahu kebenaran sama sekali setelah berusaha mencarinya, dan mereka menyangkan amalan mereka sudah sesuai sunnah, maka mereka mendapat udzur karena niat baik mereka bahkan boleh jadi mereka mendapat ganjaran karena niat baik mereka. Tetapi hal ini tidaklah menghalangi kita untuk menjelaskan kepada mereka bahwa mereka telah menempuh jalan yang menyelisihi jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para shahabat beliau

–          Jika sudah tahu kebenaran tetapi menolaknya karena fanatic buta terhadap tokoh mereka, maka mereka sama keadaanya seperti tokoh mereka, tidak mendapat udzur dan berdosa karena sengaja menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam.

(Disarikan dari Al Qaulul Mufiid ‘alaa Kitabit Tauhid hal. 46, cet. Daar Ibnil Jauzy)

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: