Gerakan Yang Membatalkan Shalat

Terkadang ketika seseorang shalat, ada beberapa hal yang mengganggu kekhusyu’an shalatnya. Misalkan tangannya digigit nyamuk sehingga dia terpaksa menggaruk tangannya, atau handphone nya berdering di tengah shalat sehingga dia memasukkan tangannya ke kantong untuk mematikan handphone[1], dan selainnya. Lantas pertanyaannya, batalkah shalat orang yang melakukan gerakan tambahan di luar gerakan shalat seperti tadi?

Gerakan tambahan dalam shalat

Pertama, ketahuilah bahwa gerakan tambahan dalam shalat ada 2 macam :

  1. Gerakan tersebut termasuk gerakan shalat
  2. Gerakan tersebut tidak termasuk gerakan shalat

Di sini kami akan merinci gerakan jenis kedua, yaitu gerakan tambahan di luar gerakan shalat.

Gerakan tambahan di luar shalat bermacam-macam, contohnya adalah berjalan, melentikkan jari-jemari, mengipas-ngipas, menggaruk, mengencangkan sarung, memasukkan tangan ke kantong, dan lain-lain.

Gerakan-gerakan di atas akan membatalkan shalat jika terpenuhi 4 syarat yang akan kami jelaskan.

Syarat-syarat gerakan yang membatalkan shalat

Ada 4 syarat yang jika terpenuhi semuanya, maka gerakan tersebut dapat membatalkan shalat :

  1. 1.       Jika banyak

Tolak ukur sedikit atau banyaknya gerakan adalah tolak ukur masyarakat di sekitar dirinya tinggal (‘urf). Jika masyarakatnya menilai bahwa menggaruk saja sudah disebut banyak bergerak, maka orang yang menggaruk anggota tubuhnya sudah melakukan banyak gerakan berdasarkan penilaian masyarakatnya. Hal ini dikarenakan syari’at tidak memberi batasan berapakah kadar gerakan yang banyak tersebut.

  1. 2.       Jika di luar gerakan shalat
  2. 3.       Tanpa kebutuhan

Adapun jika gerakan tersebut karena ada kebutuhan yang membuat dia harus bergerak, maka tidak membatalkan shalat meskipun gerakannya banyak. Contohnya dalam shalat khauf. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan” (QS. Al Baqarah : 239)

Kami berikan beberapa contoh untuk memudahkan :

–          Jika seseorang sedang shalat, tiba-tiba bertemu musuh atau tiba-tiba ada banjir atau ada binatang buas, maka dia boleh bergerak atau berlari ketika shalat, karena kondisinya sedang darurat, dan shalatnya tidak batal

–          Jika seseorang merasa gatal, dan ia tidak tahan sehingga mengganggu kekhusyu’annya, maka dia boleh menggaruk badannya yang gatal tersebut

  1. 4.       Jika berturut-turut

Adapun jika gerakannya tidak berturut-turut, misalkan dia melakukan 3 gerakan di setiap raka’at secara terpisah, maka tidak terhitung banyak bergerak. Adapun jika gerakannya digabung menjadi satu berturut-turut, maka gerakannya sudah terhitung banyak.

 

Jika keempat syarat di atas terpenuhi, maka gerakan yang ia lakukan membatalkan shalatnya.

Imam Al Mardawy rahimahullah berkata :

“Ketahuilah bahwa shalat menjadi batal dengan banyaknya gerakan yang dilakukan secara sengaja, dan tidak ada khilaf ulama dalam masalah ini sepengetahuanku” (Al Inshaf, 2/129)

Akan tetapi, bagaimana jika seseorang banyak bergerak ketika shalat karena lupa?

Jika banyak bergerak karena lupa

Ulama berselisih menjadi dua pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan shalatnya batal dan ada yang mengatakan shalatnya tidak batal.

Pendapat yang kuat : Shalat tidak batal karena banyaknya gerakan yang dilakukan karena lupa selama gerakannya tersebut tidak membuat dirinya seperti tidak sedang shalat.

Orang yang shalat dimaafkan jika dirinya lupa. Tetapi jika gerakannya tersebut membuat dirinya seperti tidak sedang shalat, maka shalatnya batal meskipun melakukannya karena lupa.

Contoh :

Seseorang shalat dalam keadaan lapar. Kemudian ia bergerak mengambil makanan yang ada di meja. Ia pun makan dan minum sedangkan ia lupa bahwa ia sedang shalat. Maka shalatnya batal karena meskipun dalam keadaan lupa, gerakannya tersebut membuat seolah-olah dirinya sedang tidak shalat.

Lantas, bagaimanakah jika seseorang melakukan sedikit gerakan di luar gerakan shalat? Apakah shalatnya batal? Apakah wajib sujud sahwi? Berapakah kadar gerakan maksimal dalam shalat? Insya Allah akan kami bahas pada kesempatan yang akan datang, bi idznillah.

Wallahu a’lam.

(Disarikan dari Sujudus Sahwi fii Dhouis Sunnah Al Muthahharah karya Dr. ‘Abdullah Ath Thayyar, hal. 22-24, cet. Madarul Wathon)

 


[1] Hendaknya handphone selalu dalam keadaan non aktif atau minimal di silent ketika akan shalat. Dan hendaknya memilih ringtone yang standar, tidak mengandung musik atau suara lucu. Ada cerita dari Ustadz Abu Ubaidah hafizhahullah, beliau ditanya : “Ketika sedang shalat, HP salah seorang jama’ah berdering dan ringtone-nya adalah suara bayi tertawa geli. Kontan saja ada beberapa jama’ah yang tidak kuat menahan tawa ketika shalat, lalu batalkah shalatnya?”. Maka kejadian ini menunjukkan pentingnya men-silent HP ketika shalat dan memilih ringtone yang tidak aneh-aneh

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: