Kaidah Penting : Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan

Diantara kaidah fiqih penting adalah :

اليقين لا يزول بالشك

“Keyakinan tidaklah bisa dihilangkan dengan keraguan”

Para fuqaha memasukkan berbagai amalan ibadah, mu’amalah, dan hak-hak sesama ke dalam kaidah ini. Maka barangsiapa yang ragu akan sesuatu, maka dikembalikan lagi ke asalnya, yakni yang yakin.

Dan fuqaha juga mengatakan :

الأصل الطهارة في كل شيء

 “Asal segala sesuatu adalah suci”

الأصل الإباحة الا ما دلّ دليل على نجاسته أو تحريمه

“Asal segala sesuatu adalah mubah kecuali ada dalil yang menunjukkan kenajisannya dan keharamannya”

الأصل براءة الذمم من الواجبات و من حقوق الخلق حتى يقوم الدليل على خلاف ذلك

“Pada asalnya, seseorang itu terbebas dari beban kewajiban dan dari menanggung hak-hak makhluk sampai ada dalil yang menunjukkan berubahnya hal tersebut”

الأصل بقاء ما اشتغلت به الذمم من حقوق الله و حقوق عباده حتى يتيقن البراءة و الأداء

“Pada asalnya, seseorang itu tetap memiliki tanggungan menunaikan kewajiban dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya sampai dia yakin telah melepas tanggungannya dan menunaikannya”

  1. 1. Penjelasan kaidah اليقين لا يزول بالشك :

  • Yakin (اليقين) menurut fuqaha adalah keyakinan yang pasti atau prasangka kuat.
  • Ragu (الشك) adalah semata-mata kebimbangan, sama saja apakah prasangkanya sama kuat atau ada yang lebih kuat.
  • Prasangka yang kuat teranggap secara syar’I, karena mengetahui setiap hukum dengan keyakinan yang pasti itu mustahil. Imam Asy Syathibi rahimahullahu berkata,

الظن في العماليات جار مجرى العلم

“Prasangka (kuat) dalam amaliyah berlaku sebagaimana ilmu yakin” (Al Muwafaqat, 2/360)

  • Makna kaidah tersebut : setiap perkara yang telah tsabit berdasarkan dalil qath’I atau zhan kuat, maka perkara tersebut dihukumi berdasarkan hal tersebut. Dan hukum tersebut tidaklah bisa dihilangkan kecuali dengan keyakinan yang tidak tercampuri keraguan karena hukum perkara yang bersifat yakin tidaklah masuk akal bisa dihilangkan dengan keyakinan yang lebih lemah darinya, akan tetapi haruslah dengan keyakinan yang semisal atau lebih kuat.
  • Dalil kaidah ini adalah hadits Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang mengadu kepada Rasulullah bahwasanya dirinya seperti mendapatkan sesuatu dalam shalat (yakni hadats). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لا ينفتل أو لا ينصرف حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا

“Janganlah ia lepaskan (shalatnya) atau dia batalkan sampai dia mendengar suaranya atau mencium baunya” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)

Mendengar suara atau mencium bau dari gas yang keluar dari dubur akan membuat pelakunya yakin telah berhadats. Maka Rasulullah memerintahkan untuk meneruskan shalatnya hingga dia yakin telah berhadats.

  • Ini adalah kaidah besar yang permasalahan fiqih banyak merujuk kaidah ini. Hanya sedikit bab fiqih yang tidak merujuk kaidah ini. Fuqaha bersepakat atas keabsahan kaidah ini. Imam Al Qarafy rahimahullahu berkata,

هذه قاعدة مجمع عليه

“Ini adalah kaidah yang disepakati” (Al Furuq, 1/111)

  1. 2. Pembahasan kaidah الأصل الطهارة في كل شيء

  • Berdasarkan kaidah ini, hukum asal segala jenis air, tanah, pakaian, dan bejana adalah suci sampai yakin hilangnya hukum asal tersebut dengan adanya najis pada benda-benda tersebut. Maka jika seseorang ragu apakah bejana atau pakaian atau tempat shalat ada najisnya atau tidak, jawabannya adalah kembali ke hukum asal, yakni suci. Ia yakin pada asalnya pakaiannya itu suci, lalu timbul keraguan apakah pakaiannya terkena najis atau tidak, maka yang benar pakaiannya tetap suci berdasarkan kaidah :

اليقين لا يزول بالشك

“keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan”

Maka keraguannya terhadap najis tidaklah teranggap karena ia yakin pakaiannya itu awalnya suci. Dan juga berdasarkan kaidah yang sedang kita bahas ini, bahwa hukum asal segala sesuatu itu suci.

  1. 3. Pembahasan kaidah الأصل الإباحة الا ما دلّ دليل على نجاسته أو تحريمه

  • Berdasarkan kaidah ini, hukum asal segala jenis makanan dan minuman adalah halal sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya, seperti bangkai, darah, daging babi, dan selainnya.
  • Dalil kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala,

هو الذي خلق لكم ما في اللأرض جميعا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian” (QS. Al Baqarah : 29)

Huruf ما di ayat tersebut adalah maushuliyyah yufidul ‘umum, huruf ما yang memberikan makna umum.

Contoh : Apa hukum makan tempe? Jawabannya adalah boleh. Kenapa? Kaidah mengatakan

الأصل الإباحة الا ما دلّ دليل على نجاسته أو تحريمه

“Asal segala sesuatu adalah boleh kecuali ada dalil yang menunjukkan kenajisannya dan keharamannya”

Dan tidak ada dalil yang mengharamkan tempe maupun bahan dasarnya dan bumbu-bumbu peraciknya sehingga makan tempe hukumnya boleh.

  1. 4. Pembahasan kaidah الأصل براءة الذمم من الواجبات و من حقوق الخلق حتى يقوم الدليل على خلاف ذلك

  • Berdasarkan kaidah ini, pada asalnya seseorang itu bebas dari kewajiban syari’at jika tidak ada dalil yang mewajibkannya. Contoh : shalat witir bukanlah kewajiban karena tidak ada dalil yang mewajibkannya. Maka pada asalnya kita tidak punya kewajiban melaksanakan shalat witir.
  • Dan pada asalnya seseorang juga terbebas dari menanggung hak-hak makhluk. Contohnya utang. Maka siapa yang mengklaim punya hutang pada orang lain, maka dia harus membawa bukti. Jika tidak ada, maka klaimnya tersebut harus diperkuat dengan saksi. Dan bagi yang dituduh berhutang, maka dia harus bersumpah untuk membantah klaim orang yang menuduhnya, karena pada asalnya ia tidak punya kewajiban menunaikan hak kepada orang yang menuduhnya sampai ada bukti.
  1. 5. Pembahasan kaidah الأصل بقاء ما اشتغلت به الذمم من حقوق الله و حقوق عباده حتى يتيقن البراءة و الأداء

  • Kaidah ini adalah kebalikan kaidah sebelumnya, karena kaidah sebelumnya mempertahankan hukum yang tidak ada (sebelum ada dalil), sedangkan kaidah ini mempertahankan hukum yang telah ada (setelah ada dalil).
  • Jika seseorang menanggung kewajiban terkait hak Allah, semisal shalat, kafarah, atau sejenisnya, atau kewajiban terkait hak makhluk, semisal hutang, pembayaran barang yang dibeli, atau sejenisnya, maka pada asalnya seseorang tersebut masih tetap menanggung kewajibannya tersebut sampai ia yakin telah menunaikan kewajibannya terkait hak Allah dan hak makhluk.
  • Berbagai contoh penerapa kaidah-kaidah di atas:

–          Jika seseorang ragu apakah dia sudah shalat zhuhur atau belum, maka dia harus shalat zhuhur. Kenapa? Karena kaidah mengatakan :

الأصل بقاء ما اشتغلت به الذمم من حقوق الله و حقوق عباده حتى يتيقن البراءة و الأداء

“Pada asalnya, seseorang itu tetap memiliki tanggungan menunaikan kewajiban dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya sampai dia yakin telah melepas tanggungannya dan menunaikannya”

Ketika waktu zhuhur telah masuk, maka wajib baginya untuk shalat zhuhur sehingga pada asalnya dia masih tetap menanggung kewajiban, yakni shalat zhuhur. Maka kewajiban tersebut harus dia hilangkan dengan sesuatu yang membuat ia yakin telah terbebas dari kewajiban. Yakni melaksanakan shalat.

–          Jika seseorang ketika sedang shalat ashar ragu akan jumlah raka’at, apakah dia sudah shalat tiga atau empat raka’at? Maka pada asalnya shalat ashar itu 4 raka’at, sehingga ia punya tanggungan kewajiban menunaikan shalat ashar 4 raka’at. Dan kewajiban ini harus dihilangkan dengan sesuatu yang membuat ia yakin telah terbebas dari kewajiban. Jika ia bisa mengingatnya dan yakin atas ingatannya, misal ia yakin sudah shalat 4 raka’at, maka dia dihitung sudah shalat 4 raka’at. Akan tetapi jika ragu, maka kaidah mengatakan :

الأصل بقاء ما اشتغلت به الذمم من حقوق الله و حقوق عباده حتى يتيقن البراءة و الأداء

“Pada asalnya, seseorang itu tetap memiliki tanggungan menunaikan kewajiban dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya sampai dia yakin telah melepas tanggungannya dan menunaikannya”

Maka yang bisa membuat ia yakin telah shalat 4 raka’at adalah mengambil jumlah raka’at yang paling sedikit, yakni 3 raka’at sehingga dia perlu menambah 1 raka’at lagi. Tapi setelah itu sujud sahwi.

–          Jika seseorang yang sedang puasa ragu, apakah matahari telah terbenam atau belum? Jawabannya ia masih harus menahan puasanya. Kaidah mengatakan :

الأصل بقاء ما اشتغلت به الذمم من حقوق الله و حقوق عباده حتى يتيقن البراءة و الأداء

“Pada asalnya, seseorang itu tetap memiliki tanggungan menunaikan kewajiban dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya sampai dia yakin telah melepas tanggungannya dan menunaikannya”

Karena keadannya masih dalam berpuasa, maka pada asalnya ia wajib berpuasa sampai matahari telah terbenam dengan menimbang hukum asal yakni matahari belum terbenam. Karena ia hanya ragu apakah matahari sudah terbenam, maka keraguan ini tidaklah bisa menghilangkan keyakinan ia bahwa ia masih wajib puasa sampai ia yakin matahari telah terbenam.

–          Jika seseorang yang hendak puasa ragu apakah fajar sudah terbit atau belum, maka ia masih boleh makan sahur. Kenapa? Karena menimbang hukum asal, yakni hari masih malam dan fajar belum terbit. Dan pada asalnya, seseorang tidak punya kewajiban puasa selama hari masih malam sampai dia yakin fajar sudah terbit. Hal ini berdasarkan kaidah :

الأصل براءة الذمم من الواجبات و من حقوق الخلق حتى يقوم الدليل على خلاف ذلك

“Pada asalnya, seseorang itu terbebas dari beban kewajiban dan dari hak-hak makhluk sampai ada dalil yang menunjukkan berubahnya hal tersebut”

–          Jika seseorang setelah selesai shalat, timbul keraguan dalam dirinya, sebelum shalat sudah berwudhu’ belum? Yang benar ia tidak perlu mengulang shalatnya. Ia yakin sudah shalat, lalu timbul keraguan, sudah wudhu belum? Maka keraguannya ini tidak teranggap karena kaidah mengatakan :

اليقين لا يزول بالشك

“Keyakinan tidaklah bisa dihilangkan dengan keraguan”

Dan keraguan yang timbul setelah ibadah selesai adalah was-was dari syaitan yang tidak perlu dihiraukan.

Bedakan contoh ini dengan contoh orang yang ragu sudah shalat zhuhur atau belum. Kalau contoh yang ini ia yakin sudah shalat lalu timbul keraguan sehingga keraguannya tidak teranggap. Sedangkan contoh yang shalat zhuhur, maka ia ragunya sudah menunaikan shalat atau belum. Ia tidak yakin sudah shalat sehingga ia masih punya kewajiban untuk shalat zhuhur.

و الله أعلم

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: