7 Jenis Pandangan Kepada Lawan Jenis

Pandangan seorang lelaki kepada wanita ada tujuh macam :

  1. 1. Memandang  wanita ajnabiyyah (non mahram) tanpa kebutuhan

Hukumnya haram. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” (QS. An Nuur : 30)

  1. 2. Memandang istri atau budak perempuannya

Pendapat penulis matan : boleh memandang seluruh tubuhnya kecuali farjinya.

Pendapat penta’liq kitab : makruh melihat farjinya.

Pendapat yang tepat : boleh dan tidak dimakruhkan melihat farjinya.

  1. 3. Memandang wanita mahramnya atau budak yang telah dipersunting lelaki merdeka

Pendapat penulis : boleh kecuali antara pusar dan lutut.

Pendapat yang tepat : yang dibolehkan hanya tempat-tempat yang biasa diberikan perhiasan semisal pergelangan tangan, leher, dan lainnya. Ini juga pendapat Syaikh Al Albani rahimahullahu. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ

“dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka” (QS. An Nuur : 31)

  1. 4. Memandangi wanita yang ingin dinikahi

Pendapat penulis : hukumnya boleh memandangi wanita yang ingin dinikahi yakni wajah dan kedua telapak tangannya.

Pendapat yang lebih tepat : bahkan dianjurkan. Ini juga pendapat penta’liq. Boleh melihatnya beberapa kali agar tidak menyesal setelah menikah[1]. Wanita juga dianjurkan untuk melihat lelaki yang ingin menikahinya selain auratnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang yang hendak menikahi seorang wanita,

«أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟» قال: لَا، قَالَ: «اذهب فَانْظُرْ إِلَيْهَا» و في رواية : «فَإِنَّهُ أحرى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا»

“Apakah engkau melihatnya?” Dia menjawab : “Tidak”. Beliau bersabda : “Pergilah dan lihatlah wanita tersebut”

Dalam riwayat lain disebutkan : “karena hal tersebut akan membuat rasa cinta diantara kalian langgeng”[2]

  1. 5. Memandangi wanita dalam rangka pengobatan

Hukumnya boleh memandang ke bagian yang memang dibutuhkan. Akan tetapi, bagaimanakah hukum berobat ke dokter lawan jenis?

Jawabannya boleh dengan 4 syarat :

  • Tidak ada dokter sejenis
  • Jika tidak ke dokter khawatir semakin parah sakitnya
  • Tidak kholwat
  • Jika harus memandang bagian tertentu, seperlunya saja[3]

Ada ulasan menarik dari penta’liq kitab. Jika pasiennya perempuan, maka urutan dokter yang boleh menanganinya adalah sebagai berikut :

–          Dokter muslimah

–          Jika tidak ada, maka dokter muslim yang masih mahramnya

–          Jika tidak ada, maka dokter wanita kafir

–          Jika tidak ada, maka dokter muslim yang bukan mahram tapi dengan ditemani mahramnya atau suaminya atau muslimah yang terpercaya

–          Jika tidak ada juga, maka dokter laki-laki kafir

  1. 6. Memandang ketika situasi pemberian persaksian atau ketika mu’amalah semisal jual-beli

Adapun pandangan seorang laki-laki kepada wanita ketika situasi persaksian, maka boleh memandang ke bagain yang memang dibutuhkan.

Adapun dalam kondisi mu’amalah semisal jual-beli dan lainnya, maka hanya boleh memandang wajahnya karena adanya kebutuhan untuk mengetahui penjualnya. Hal ini disebabkan terkadang ada cacat pada barang yang dijual sehingga ketika akan mengembalikannya, kita tahu siapa yang menjual barang tersebut tadi.

  1. 7. Memandangi budak ketika akan membelinya

Boleh memandanginya untuk mengecek kondisi fisik budak yang akan dibelinya selain daerah antara pusar dan lutut.

Wallahu Ta’aala a’lam.

(Disarikan dari Matnul Ghayah wat Taqrib fil Fiqhisy Syafi’I hal. 211-213 beserta ta’liq-nya oleh Majid Al Hamawy, cet. Daar Ibnu Hazm dengan perubahan susunan dan penambahan seperlunya)


[1] Jika setelah pandangan pertama dia tidak tertarik dengan wanita tersebut, maka tidak boleh lagi memandanginya. Kemudian, orang yang hendak menikah, maka batasan mana yang boleh dilihat olehnya dirinci :

  • Jika diketahui calonnya, maka yang boleh dilihat adalah wajah dan telapak tangan
  • Jika tanpa sepengetahuan calonnya, maka yang boleh dilihat adalah tempat yang biasa diberikan perhiasan padanya (Faidah dari Ustadz Aris Munandar)

[2] Penta’liq berkata : diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, dan An Nasa’i

[3] Faidah dari Ustadz Aris Munandar

7 Jenis Pandangan Kepada Lawan Jenis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: