Hukum Menikahi Budak Perempuan

Al Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Al Ashfahany rahimahullah mengatakan :

النكاح مستحب لمن يحتاج إليه ويجوز للحر أن يجمع بين أربع حرائر وللعبد بين اثنين ولا ينكح الحر أمة إلا بشرطين عدم صداق الحرة وخوف العنت

“Menikah hukumnya dianjurkan bagi orang yang berkeinginan untuk menikah[1]. Seorang laki-laki merdeka boleh menikahi empat orang perempuan merdeka. Dan seorang budak laki-laki boleh menikahi dua orang perempuan. Seorang laki-laki yang merdeka tidak boleh menikahi budak kecuali dengan dua syarat : tidak mampu memberi mahar untuk wanita merdeka dan takut terjatuh kepada zina”

Dalil bolehnya laki-laki berpoligami adalah firman Allah Ta’ala :

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat” (QS. An Nisa : 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ghaylan ketika beliau masuk Islam sedangkan beliau memiliki sepuluh orang istri :

أمسك أربعا و فارق سائرهن

“Tahanlah empat istrimu dan ceraikanlah sisanya”[2]

Maka ayat dan hadits di atas adalah dalil tegas bolehnya seorang laki-laki berpoligami asal mampu berlaku adil dalam hal nafkah. Dan tidak ada hujjah sama sekali bagi orang-orang yang menentang syari’at poligami melainkan bersumber dari hawa nafsu dan kejahilan di atas kejahilan belaka.

Menikahi budak perempuan

Al Qadhi Abu Syuja’ rahimahullahu mengatakan boleh seorang laki-laki merdeka menikahi budak dengan dua syarat :

  • Laki-laki tersebut tidak mampu menebus mahar untuk perempuan merdeka [3]
  • Takut terjatuh kepada zina

Akan tetapi, ada dua syarat lagi yang belum disebutkan oleh beliau, yakni :

  • Dia tidak memiliki budak muslimah atau ahli kitab yang dia bisa bersenang-senang dengannya
  • Budak yang ia nikahi adalah budak muslimah karena tidak halal menikahi budak ahli kitab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ

“Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki” (QS. An Nisa : 25)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman dalam lanjutan ayat :

ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ

“(Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut terjatuh perbuatan zina di antara kamu” (QS. An Nisa : 25)

Mengapa terlarang dengan budak?

Hikmah terlarangnya menikahi budak adalah jika nanti dari hasil hubungannya dengan budak perempuan tersebut terlahir seorang anak, maka anaknya tersebut akan menjadi budak, sedangkan Pembuat syari’at menginginkan untuk mencegah perbudakan. Wallahu a’lam.

(Disarikan dari Matnul Ghayah wat Taqrib fil Fiqhisy Syafi’I hal. 209-211 beserta ta’liq-nya oleh Majid Al Hamawy, cet. Daar Ibnu Hazm dengan perubahan susunan dan penambahan seperlunya)


[1] Dan memiliki modal untuk menikah

[2] Penta’liq mengatakan : Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim (footnote Matan Abi Syuja’ no. 1 hal. 211)

[3] karena mahar untuk budak lebih murah dibandingkan dengan wanita merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: