Variasi Hukum Nikah

                Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menciptakan pasangan-pasangan untuk manusia agar mereka merasa tentram dengannya sebagaimana dalam firman-Nya :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Ruum : 21)

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendorong umatnya agar menikah agar kehormatan mereka terjaga, dan juga kepada keluarga beliau, shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Hukum Asal Menikah

Hukum asal menikah adalah mustahab[1] bagi orang yang sudah ingin menikah dan memiliki modal untuk membayar biaya mahar dan menafkahi keluarga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (32) وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiriandiantara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya” (QS. An Nuur : 32-33) [2]

Jika ada yang sudah ingin menikah tapi belum memiliki modal, maka tidak menikah lebih baik baginya sampai dia memiliki modal, dan hendaknya dia melawan syahwatnya dengan berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah sanggup untuk menikah[3], hendaklah menikah. Menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu, hendaklah dia berpuasa karena puasa baginya seperti kebiri”[4]

Variasi Hukum Nikah

Hukum asal menikah sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya adalah dianjurkan. Akan tetapi, hukum asal ini bisa saja berubah bagi masing-masing individu sesuai keadaan mereka masing-masing. Diantaranya adalah :

  • Menikah makruh bagi orang yang tidak memiliki keinginan untuk menikah dan ia belum memiliki modal, atau ia memiliki modal tapi memiliki cacat pada dirinya seperti pikun
  • Menikah hukumnya wajib bagi orang yang takut terjatuh kepada zina dan ia sudah mampu untuk menikah dan menikah adalah satu-satunya jalan selamat dari zina
  • Menikah hukumnya haram bagi orang yang tidak mampu menunaikan hak-hak istrinya

Wallahu a’lam.

(Disarikan dari Matnul Ghayah wat Taqrib fil Fiqhisy Syafi’I hal. 209-210 beserta ta’liq-nya oleh Majid Al Hamawy, cet. Daar Ibnu Hazm dengan perubahan susunan dan penambahan seperlunya)

 

 


[1] Sebagian ulama seperti Ibnu Hazm rahimahullah dari kalangan mutaqaddimin dan Syaikh Ali Al Halabi hafizhahullah dari kalangan muta-akhkhirin berpendapat bahwa hukum asal menikah adalah wajib. Akan tetapi yang tepat adalah hukum asal menikah adalah mustahab. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

[2] Perhatian : Ayat di atas bukanlah dalil dianjurkannya menikah bagi orang-orang yang tidak punya kemampuan sama sekali untuk menafkahi keluarga berdasarkan awal ayat ke-33 (yang artinya) : “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya“ (Faidah dari Ustadz Aris Munandar)

[3] Ulama berselisih dalam memaknai البَاءَةَ dalam hadits di atas. Menurut pendapat yang kuat, makna البَاءَةَ dalam hadits di atas adalah kemampuan dalam hal menanggung biaya pernikahan. Jika dimaknai dengan kemampuan jima’, maka makna tersebut sudah tercakup dalam kata الشَّبَابِ , yakni pemuda (faidah dari Ustadz Aris Munandar). Ini juga pendapat penta’liq Matan Abi Syuja’, Syaikh Majid Al Hamawy.

[4] HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan An Nasa’i

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: