Dialah Orang Yang Asing Itu…

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya[1] :

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad dan Ibnu Abi ‘Umar, semuanya dari jalan Marwan Al Fazary. Ibnu ‘Abbad berkata : Telah menceritakan kepada kami Marwan, dari Zaid yakni Ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing. Dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya. Maka bahagialah orang-orang asing tersebut” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah berkata, “Tidak ada riwayat yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’ (orang-orang asing) selain dua tafsiran yang marfu’ yaitu:
[1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan.
[2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” (Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 55)[2]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :

“Orang Islam di tengah-tengah manusia, merekalah al ghuraba. Orang-orang yang beriman di tengah-tengah orang Islam, merekalah al ghuraba. Orang-orang yang berilmu di tengah-tengah orang-orang yang beriman, merekalah al ghuraba.

Dan ahlus sunnah yang mereka membedakan sunnah dengan hawa nafsu dan bid’ah, merekalah al ghuraba. Dan orang-orang yang menyeru  kepada sunnah dan bersabar atas gangguan orang-orang yang menyelisihi mereka, merekalah orang yang paling terasing di antara orang-orang terasing (al ghuraba) tersebut.

Akan tetapi mereka adalah hamba Allah yang sebenarnya. Tidak ada keterasingan pada mereka. Dan sesungguhnya keterasingan mereka hanya diantara kebanyakan manusia saja yang Allah berfirman tentang mereka (mayoritas manusia tersebut-pen),

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am : 116)

Merekalah (mayoritas manusia tersebut-pen) orang-orang yang asing (al ghuraba) dari Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya. Dan keterasingan mereka adalah keterasingan yang menyedihkan”[3]

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan perkataan beliau :

“Maka dialah orang yang asing agamanya karena rusaknya agama mereka…

Asing dengan berpegang teguh kepada sunnah karena mereka berpegang teguh kepada bid’ah…

Asing dalam aqidahnya karena rusaknya aqidah mereka…

Asing dalam shalatnya karena jeleknya shalat mereka…

Asing dalam cara hidupnya karena sesatnya dan rusaknya cara hidup mereka…

Asing dengan menisbatkan diri (kepada sunnah) karena berbedanya penisbatan mereka…

Asing ketika bergaul dengan mereka karena ia bergaul dengan sesuatu yang tidak mereka senangi (yakni sunnah)…”[4]

Imam Adz Dzahabi rahimahullah pernah berkata :

“Tidaklah mereka (para ulama) diberikan ilmu kecuali sedikit. Adapun saat ini, tidaklah tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit, yang terdapat pada manusia yang sedikit jumlahnya. Lebih sedikit lagi adalah orang yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut. Fahasbunallah wa ni’mal wakiil[5]

Imam Adz Dzhahabi rahimahullah mengatakan hal tersebut di zaman beliau, dimana beliau hidup pada abad ke-7 Hijriyah. Bagaimana lagi dengan kondisi saat ini? Tujuh abad setelah beliau mengucapkan hal tersebut?

Nah saudaraku, manakah yang akan engkau pilih?

Engkau memilih mempelajari agama Islam ini dengan sebenarnya dan mempelajari sunnah-sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, menerapkan dan menyebarkannya, akan tetapi itu akan membuatmu asing di mata manusia tetapi mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Ataukah engkau akan memilih mengikuti mayoritas manusia pada saat ini dimana mereka tidak peduli dengan agama mereka kecuali sedikit, hanya mengejar dunia dan memikirkan bagaimana bisa bersenang-senang di dunia ini, sehingga engkau akan mengikuti perkembangan zaman dan engkau tidak akan dikatakan kolot atau ketinggalan zaman, akan tetapi engkau menjadi orang asing di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Fa hasbunallah wa ni’mal wakiil. Semoga Allah Ta’ala menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Allahumma aamiin.


[1] Shahih Muslim, Maktabah Syamilah

[3] Madarijus Salikin (3/186). Maktabah Syamilah

[4] Ibid, (3/189)

[5] Tadzkiratul Huffazh (3/1031). Dinukil dari Asyrathus Sa’ah karya Yusuf Wabil hal. 115

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: