Archive | Desember 2011

Mengenal hadits dho’if

Pengertian hadits dho’if

Hadits dho’if adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Hadits dho’if ini banyak macamnya dan akan datang penjelasannya insya Allah.

Contoh hadits dho’if

Imam At Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya :

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الحَارِثِ، عَنْ دَرَّاجٍ أَبِي السَّمْحِ، عَنْ أَبِي الهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ المَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ…» Baca Lanjutannya…

Kaidah Penting : Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan

Diantara kaidah fiqih penting adalah :

اليقين لا يزول بالشك

“Keyakinan tidaklah bisa dihilangkan dengan keraguan”

Para fuqaha memasukkan berbagai amalan ibadah, mu’amalah, dan hak-hak sesama ke dalam kaidah ini. Maka barangsiapa yang ragu akan sesuatu, maka dikembalikan lagi ke asalnya, yakni yang yakin. Baca Lanjutannya…

7 Jenis Pandangan Kepada Lawan Jenis

Pandangan seorang lelaki kepada wanita ada tujuh macam :

  1. 1. Memandang  wanita ajnabiyyah (non mahram) tanpa kebutuhan

Hukumnya haram. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” (QS. An Nuur : 30) Baca Lanjutannya…

Menyekutukan Allah Dengan Ulama

Keberadaan ulama dalam umat ini adalah sebuah keberkahan yang akan membawa kebaikan bagi umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Merekalah yang meneruskan estafet dakwah para nabi dalam rangka meninggikan kalimat tauhid di muka bumi. Akan tetapi, dengan berbagai keutamaan yang terdapat dalam diri seorang ulama, mereka tetaplah berbeda dengan nabi. Jika nabi itu ma’shum, maka ulama tidaklah ma’shum. Seorang ulama bisa saja tergelincir dalam suatu permasalahan. Maka yang wajib bagi kita adalah mengikuti apa yang sesuai dengan Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun kita harus menyelisihi ulama yang tergelincir tersebut, meskipun mengaku keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa pun kita mencintai dan menyanjungnya. Baca Lanjutannya…

Hukum Menikahi Budak Perempuan

Al Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Al Ashfahany rahimahullah mengatakan :

النكاح مستحب لمن يحتاج إليه ويجوز للحر أن يجمع بين أربع حرائر وللعبد بين اثنين ولا ينكح الحر أمة إلا بشرطين عدم صداق الحرة وخوف العنت

“Menikah hukumnya dianjurkan bagi orang yang berkeinginan untuk menikah[1]. Seorang laki-laki merdeka boleh menikahi empat orang perempuan merdeka. Dan seorang budak laki-laki boleh menikahi dua orang perempuan. Seorang laki-laki yang merdeka tidak boleh menikahi budak kecuali dengan dua syarat : tidak mampu memberi mahar untuk wanita merdeka dan takut terjatuh kepada zina” Baca Lanjutannya…

Variasi Hukum Nikah

                Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menciptakan pasangan-pasangan untuk manusia agar mereka merasa tentram dengannya sebagaimana dalam firman-Nya :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Ruum : 21)

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendorong umatnya agar menikah agar kehormatan mereka terjaga, dan juga kepada keluarga beliau, shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Baca Lanjutannya…

Dialah Orang Yang Asing Itu…

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya[1] :

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad dan Ibnu Abi ‘Umar, semuanya dari jalan Marwan Al Fazary. Ibnu ‘Abbad berkata : Telah menceritakan kepada kami Marwan, dari Zaid yakni Ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing. Dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya. Maka bahagialah orang-orang asing tersebut” (HR. Muslim) Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: