Tinjauan Fiqih Barang Titipan (Al Wadi’ah)[1]

Barang titipan adalah sebuah amanah. Hukum menerima barang titipan adalah mustahab (dianjurkan) bagi orang yang amanah dan mampu untuk menjaganya[2] jika ada orang lain yang bisa dititipkan. Tetapi, jika tidak ada orang lain yang bisa dititipkan kecuali dirinya, maka wajib menerimanya.

Orang yang dititipi tersebut tidak punya kewajiban ganti rugi jika terjadi sesuatu pada barang titipan tersebut kecuali karena dia melampaui batas terhadap barang tersebut.[3]

Jika terjadi suatu perselisihan antara orang yang menitip dan orang yang dititip, maka ucapan orang yang dititipkan barang lebih didahulukan ketimbang orang yang menitipkan barang.[4]

Orang yang dititipkan barang wajib menjaga barang tersebut di tempat penyimpanan yang standar untuk barang yang dititipkan kepadanya (yakni di hirzu mitslih).

Jika orang yang menitipkan barang meminta barangnya dikembalikan, tetapi yang dititipi tidak mau mengembalikannya padahal ia bisa mengembalikannya sampai barang itu rusak, maka yang dititipi wajib ganti.[5]

(Disarikan dari Matnul Ghayah wat Taqrib fil Fiqhi Asy Syafi’I karya Al Qadhi Abu Syuja’ Al Ashfahani rahimahullah hal. 193-194. Ta’liq : Majid Al Hamawy. Cet. Daar  Ibnu Hazm)

Tambahan faidah tentang Al Wadi’ah[6] :

  • Orang yang dititipi barang titipan, dia punya kewajiban menjaga barang tersebut tapi tidak berhak memanfaatkannya
  • Orang yang dititipi memiliki kewajiban ganti rugi dengan salah satu sebab di bawah ini :

–          Karena ceroboh

Misalkan tidak disimpan di tempat yang seharusnya barang tersebut disimpan di sana

–          Karena melampaui batas

Sudah disebut melampaui batas hanya dengan menggunakan barang titipan tersebut

–          Jika si penitip meminta barangnya dikembalikan tapi dia tidak mengembalikannya padahal bisa mengembalikannya sehingga barangnya rusak

Menabung di ‘bank syariah’ adalah al wadi’ah?

Di zaman ini muncul ‘bank syariah’ yang menamakan transaksi yang mereka lakukan dengan nasabah dengan al wadi’ah (titip-menitip). Nasabah menitipkan sejumlah uang, lalu uang tersebut akan dikembalikan ke nasabah dengan jumlah yang sama. Akan tetapi yang benar ini tidak termasuk al wadi’ah karena dalam al wadi’ah, orang yang dititipkan tidak berhak menggunakan barang yang dititipkan tersebut. Dan pihak bank ‘syariah’ tersebut menggunakan uang nasabah untuk keperluan bank walaupun pada akhirnya dikembalikan. Maka transaksi tersebut bukanlah al wadi’ah, melainkan qardhun atau utang-piutang dimana nasabah meminjamkan uang kepada pihak bank. Jika ada selisih, maka itu riba.


[1] Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisaa : 57)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Ciri orang munafik ada 3 : (1)  Jika berbicara dia berdusta (2) Jika berjanji dia ingkar (3) Jika diberi amanah dia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Syarat dua orang yang melakukan wadi’ah (titip-menitip) barang : keduanya adalah seorang mukallaf.
  • Syarat barang titipannya : barangnya adalah barang bernilai.

Transaksi wadi’ah menjadi gugur/batal jika salah seorang dari keduanya ada yang meninggal, gila, atau pingsan.

[2] Jika dia tidak bisa menjaganya, maka haram menerima titipan barang

[3] Yakni dengan menggunakannya karena orang yang dititipi barang tidak berhak untuk menggunakannya, dia hanya punya kewajiban untuk menjaganya (Faidah tambahan Ustadz Aris Munandar hafizhahullah)

[4] Misalkan orang yang menitip (dan disertai sumpah) mengakatakan : “barangnya belum dikembalikan”. Tetapi orang yang dititipi mengatakan : “barangnya sudah dikembalikan”. Maka yang diambil adalah pengakuan orang yang dititipi, berarti barangnya sudah dikembalikan.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ

“maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya” (QS. Al Baqarah : 283)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan orang yang diberi amanah (termasuk hal ini orang yang dititipi) untuk melakukan persaksian. Hal ini menunjukkan pengakuan orang yang dititipi tersebut bisa diterima.

Lalu Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang memberikan amanah :

فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ

“Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka” (QS. An Nisaa : 6)

Maka dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan orang yang memberikan amanah untuk mengadakan persaksian.

[5] Adapu jika dia tidak bisa mengembalikannya saat itu karena suatu alasan yang dapat diterima, maka dia tidak wajib ganti.

Tatimmah : jika ada seseorang yang dititipkan barang sedangkan pemiliknya tidak terdengar lagi kabarnya untuk sekian lama, dan yang dititipi tersebut sudah putus asa untuk menemukan si penitip barang maupun ahli warisnya setelah dicari-cari, maka dia bisa menggunakan barang titipan tersebut untuk keperluan mashlahat kaum muslimin. Jika setelah itu ketemu pemiliknya, maka dia wajib ganti rugi.

[6] Dari Ustadz Aris Munandar

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: