Masalah Anak Hilang (Al Laqith)[1]

Jika ditemukan anak hilang di tengah jalan, maka mengambilnya[2], mendidiknya, dan menjaganya hukumnya adalah fardhu kifayah[3].

Adapun orang yang berhak merawatnya adalah orang merdeka yang amanah, yang lurus agamanya dan memiliki sifat-sifat yang terpuji.

Jika anak hilang tersebut membawa harta, maka hakim mengurusi kebutuhan anak tersebut dengan harta yang ia bawa. Tetapi jika anak tersebut tidak membawa apa-apa, maka keperluannya ditanggung oleh baitul maal (kas Negara).[4]

(Disarikan dari Matnul Ghayah wat Taqrib fil Fiqhi Asy Syafi’I karya Al Qadhi Abu Syuja’ Al Ashfahani rahimahullah hal. 192. Ta’liq : Majid Al Hamawy. Cet. Daar  Ibnu Hazm)


[1] Disebut juga dengan malqhut (ملقوط). Yakni anak kecil yang hilang meski sudah tamyiz, ataupun orang gila yang tidak diketahui orang yang bertanggung jawab mengurusnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ

“dan perbuatlah kebajikan” (QS. Al Hajj : 77)

Tambahan :

Inilah diantara bukti kebenaran dan kesempurnaan agama Islam ini sampai-sampai masalah anak hilang pun diatur oleh Islam. Maka tidak ada alasan untuk berbuat bid’ah, perkara yang diada-adakan yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena jika anak hilang saja diatur oleh Islam, tentu masalah ibadah lebih utama lagi. Maka setiap ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak layak untuk dikerjakan.

[2] Peringatan : Wajib mempersaksikan bahwa anak yang dia ambil tersebut adalah anak hilang, bukan anak kandungnya dan juga wajib mempersaksikan barang-barang yang dibawa anak tersebut saat dia menemukannya. Jika tidak dipersaksikan, maka dia tidak berhak merawat anak tersebut dan hakim berhak mengambil anak tersebut darinya.

[3] Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS. Al Maidah : 32)

[4] Berdasarkan hadits Sunain Adh Dhomiri :

“Bahwasanya beliau menemukan anak hilang, kemudia beliau membawa anak tersebut ke Umar bin Khaththab.

Kemudian Umar berkata : ‘Apa yang membuatmu mengambil anak tersebut?’

Beliau menjawab : ‘Aku menemukannya hilang lalu akupun mengambilnya’

Pemuka kaumnya Sunain berkata : ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia (Sunain Adh Dhomiri) adalah seorang yang shalih’

Umar berkata : ‘(kalau begitu) bawalah anak itu dan ia statusnya merdeka (bukan budak). Dan engkau boleh merawatnya, dan nafkah anak itu tanggungan kami’ “

Penta’liq Matan Abi Syuja’ mengatakan : “Diriwayatkan oleh Malik dan Syafi’I. Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: