Lafazh-lafazh Yang Menunjukkan Makna Umum

Dalam dalil-dalil syari’at, ada lafazh-lafazh yang menunjukkan makna umum, artinya menyeluruh. Di antara shighoh yang menunjukkan makna umum adalah :

  1. Lafazh كل (kullu) dan جميع (jamii’)

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imraan : 185)

Maka kata  كل (kullu) menunjukkan makna umum, yakni semua jiwa akan merasakan yang namanya kematian.

Contoh kedua adalah firman Allah Ta’ala

وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

“Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami” (QS. Yaasin : 32)

Berdasarkan hal ini juga, kita mengetahui bahwa semua bid’ah adalah sesat dan tidak ada bid’ah hasanah dalam agama yang sempurna ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

“Hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan (dalam agama). Karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat”[1]

Lafazh kullu bid’atin menunjukkan makna semua kebid’ahan dalam agama ini adalah dholalah, kesesatan.

  1. مفرد مضاف (Mufrod mudhof)

Suatu kata atau isim yang mufrod (tunggal) dan ia disandarkan ke kata lainnya (mudhof), maka isim mufrod tersebut menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya” (QS. An Nahl : 19)

Kata نِعْمَةَ (nikmat) adalah isim mufrod  yang disandarkan ke kata lain (mudhof), yakni اللَّهِ . Maka kata “nikmat” menunjukkan makna umum, berbagai macam nikmat yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.

  1. جمع مضاف (Jamak Mudhof)

Suatu kata atau isim jamak (lebih dari 2) dan ia disandarkan ke kata lainnya (mudhof), maka isim jamak tersebut menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu” (QS. An Nisaa : 11)

Aulad (anak-anak) adalah isim jamak mudhof. Maka ayat ini menunjukkan hukum asalnya, semua anak mendapatkan warisan.

  1. النكرة في سياق النهي (An Nakirah fii siyaaqin nahyi)

Isim nakiroh yang terletak dalam kalimat yang konteksnya larangan menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kamu menyembah seorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” (QS. Al Jinn : 18)

Kata أَحَدًا adalah isim nakiroh yang terletak dalam kalimat yang konteksnya larangan sehingga menunjukkan makna umum, yakni larangan agar tidak beribadah kepada seorang pun, siapa pun dia meskipun kiyai, ulama, nabi, atau malaikat disamping beribadah kepada Allah.

  1.  النكرة في سياق النفي (An Nakirah fii siyaaqin nafyi)

Isim nakiroh yang terletak dalam kalimat yang konteksnya penafian atau peniadaan menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

“dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al Baqarah : 255)

Kata شَيْءٍ adalah isim nakiroh yang terletak dalam kalimat yang konteksnya penafian atau peniadaan sehingga menunjukkan makna umum, yakni mereka sama sekali tidak mengetahui sedikitpun dari ilmu Allah kecuali apa yang Allah kehendaki.

  1. النكرة في سياق الإستفهام الإنكاري (An Nakirah fii siyaaqil istifham al inkariy)

Isim nakiroh yang terletak dalam kalimat yang konteksnya pertanyaan pengingkaran menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ

“siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu?” (QS. Al Qashash : 71)

Kata إِلَهٌ adalah isim nakirah yang terletak dalam kalimat yang konteksnya pertanyaan pengingkaran sehingga menunjukkan makna umum, yakni tidak ada tuhan sama sekali yang dapat mendatangkan sinar terang kepadamu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. النكرة في سياق الشرط (An Nakirah fii siyaaqisy syarthi)

Isim nakiroh yang terletak dalam kalimat yang konteksnya syarat menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu” (QS. At Taubah : 6)

Kata أَحَدٌ  adalah isim nakirah yang terletak dalam kalimat yang konteksnya berupa syarat sehingga menunjukkan makna umum, yakni jika ada salah seorang dari kalangan orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka berikanlah perlindungan kepadanya sehingga dia mendengar kalamullah, yakni Al Qur’an.

  1. المعرف بأل الدالة على الجنس (Al Mu’arraf bi al ad daallati ‘alal jinsi)

Isim yang ada alif lam yang menunjukkan kepada jenis maka menunjukkan makna umum.

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu” (QS. Al Hajj : 1)

Kata النَّاسُ adalah isim ma’rifat dengan alif lam yang menunjukkan jenis, yakni jenis manusia, sehingga menunjukkan makna umum yang berarti seluruh manusia  wajib bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

  1. المعرف بأل الدالة على الإستقراقية  (Al Mu’arraf bi al ad daallati ‘alal istighroqiyyah)

Isim yang ada alif lam yang menunjukkan kepada istighroq (menyeluruh) maka menunjukkan makna umum.

Ciri-ciri alif lam istighroqiyyah : alif lam-nya bisa diganti dengan kata kullu (كل).

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam” (QS. Al Fatihah : 1)

Kata الْحَمْدُ memiliki alif lam istighraqiyyah karena alif lam tersebut bisa diganti dengan lafazh kullu.

كُلُّ حَمْدٍ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam”

Maka inilah alasan kenapa Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin diartikan : “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam” padahal tidak ada kata-kata kullu di ayat tersebut. Wallahu a’lam.

(Disarikan dari Jam’ul Mahshul fii Syarhi Risalati Ibni Sa’di fil Ushul karya Syaikh Abdullah Al Fauzan hafizhahullah hal. 149-150, cet. Daarul Muslim dengan penambahan dan pengeditan seperlunya)


[1] Imam An Nawawi rahimahullah berkata : Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata : “Hadits hasan shahih

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: