Hukum Barang Temuan (Luqothoh) [1]

Jika seseorang menemukan luqothoh di suatu daerah (tanah) tak bertuan atau di jalan umum, maka boleh baginya untuk mengambilnya ataupun tidak. Yang lebih baik adalah mengambilnya jika dia yakin bisa mengurus barang temuannya tersebut. Jika ia mengambilnya, maka wajib baginya untuk mengetahui enam[2] hal dari benda tersebut :

  1. Wadahnya
  2. Tutupnya
  3. Tali/ikatannya
  4. Jenisnya
  5. Jumlahnya
  6. Beratnya

Maka orang yang menemukannya hendaknya menjaganya di hirzu mitslih (حرز مثلها), yakni tempat yang merupakan tempat standar untuk menyimpan jenis barang yang ditemukan tersebut.[3]

Jika si penemu tersebut ingin untuk memiliki benda yang ia temukan itu atau menyimpannya untuk dikembalikan ke pemiliknya, maka wajib untuk mengumumkannya selama setahun di pintu-pintu masjid dan di tempat ia menemukan barang tersebut.[4] Jika pemiliknya tidak ketemu, maka si penemu boleh memiliki benda tersebut dengan syarat dia siap mengganti jika ternyata suatu hari bertemu dengan pemiliknya.

Benda temuan ada empat kelompok :

  1. 1. Benda yang awet atau tahan lama sepanjang waktu seperti emas dan perak.

Maka hukum tentang barang temuan yang tadi sudah kita bicarakan berlaku pada golongan ini.[5]

  1. 2. Benda yang tidak tahan lama seperti makanan

Si penemu boleh memilih :

–          Memakannya dengan membayar ganti rugi jika ketemu pemiliknya

–          Menjualnya dan menyimpan hasil jualannya untuk dikembalikan ke pemiliknya jika ketemu[6]

  1. 3. Benda yang butuh usaha untuk menjaganya tetap awet seperti ruthob (kurma basah)

Maka lakukanlah mana yang bermanfaat untuk benda tersebut, apakah dengan menjualnya dan menyimpan hasil penjualannya atau dengan mengeringkannya sehingga menjadi tamr (kurma kering) dan menyimpannya

  1. 4. Benda yang butuh modal untuk menjaganya semisal hewan. Adapun barang temuan berupa hewan, maka   ada dua golongan :

1. Hewan yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari hewan buas yang kecil seperti kambing, anak sapi, onta yang masih kecil, dan lainnya yang tidak bisa melindungi dirinya dari hewan buas kecil seperti serigala dan macan. Maka si penemu diberikan pilihan :

  • Memakannya dan mengganti harga hewan tersebut jika berjumpa dengan pemiliknya[7]
  • Tidak memakannya tetapi merawatnya dengan biayanya sendiri
  • Menjualnya dan menyimpan hasil penjualannya untuk dikembalikan ke pemiliknya jika berjumpa

2. Hewan yang mampu melindungi dirinya sendiri dari ancaman hewan buas yang kecil.[8] Maka jika ditemukan di padang pasir, hendaknya membiarkannya saja.[9] Adapun jika dijumpai di daerah pemukiman, maka boleh memilih salah satu dari tiga pilihan di poin no. 1 di atas.[10]

Wallahu a’lam.
(Diringkas dari Matnul Ghayah wat Taqrib fii Fiqhis Syafi’i karya Al Qadhi Abu Syuja’ Al Ashfahani rahimahullahu hal. 188-192, cet. Daar Ibnu Hazm)

[1] Luqothoh adalah benda yang ditemukan oleh seseorang yang tidak diketahui siapa pemiliknya.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani radhiyallahu ‘anhu : “Bahwasanya seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya tentang luqothoh. Lalu Nabi bersabda : “Kenalilah tutupnya dan talinya, kemudian umumkanlah selama setahun. Jika pemiliknya datang, maka serahkanlah. Jika tidak, maka terserah padamu mau diapakan” Orang itu bertanya lagi : “Bagaimana dengan kambing yang tersesat?” Nabi menjawab : “Maka itu menjadi milikmu atau saudaramu atau serigala” Orang itu bertanya lagi : “Bagaimana dengan onta yang tersesat?”. Nabi menjawab : “Apa urusanmu dengan onta? Onta punya sepatu (di kakinya) dan juga kantong air. Ia akan minum air dan makan pepohonan sampai nanti ia berjumpa tuannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Muhaqqiq mengatakan : bahkan delapan.

Yang ke-7 : jenisnya

Yang ke-8 : shifatnya apakah masih baik atau sudah jelek

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwasanya Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menemukan sekantong uang berisi dinar. Kemudian beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa kantong tersebut. Kemudian beliau menceritakannya pada Nabi, maka Nabi pun bersabda :

عرفها حولا. فإن جاء صاحبه يعرف عددها ووكاءها فادفعها إليه, و إلا فاستمتع

“Umumkanlah selama setahun. Jika pemiliknya datang kepadamu dan mengetahui jumlah dan ikatan dari barang tersebut, maka serahkanlah padanya. Jika pemiliknya tidak datang, maka manfaatkanlah (barang tersebut)”

[3] Contoh : kalau menemukan sandal, maka hirzu mitslih-nya adalah rak sepatu/sandal walaupun terletak di depan rumah. Adapun kalau menemukan dompet berisi uang tunai Rp 5.000.000,- jika menyimpannya hanya di atas meja walaupun di dalam rumah, maka tidak teranggap telah menyimpannya di mirzu mitslih-nya, karena uang Rp 5.000.000 tempat penyimpanan standarnya di tempat kita adalah laci di dalam lemari yang terkunci.

Intinya : hirzu mitslih  di sini berbeda-beda sesuai jenis benda temuannya.

[4] Mengumumi benda temuan itu tergantung ‘urf masing-masing tempat, jadi tidak ada aturan khusus untuk mengumumkannya. Selama di suatu daerah perbuatan itu bisa disebut “mengumumkan benda hilang”, maka perbuatan tersebut sudah termasuk mengumumkan barang hilang.

Di saat mengumumkan benda hilang tersebut dia juga memberitahukan kapan barang tersebut ditemukan. Dan dianjurkan untuk menyebutkan sebagian ciri benda tersebut ketika mengumumkannya. Tetapi tidak boleh memberitahukan semua ciri benda tersebut sehingga membuka peluang bagi orang jahat untuk mengaku-ngaku benda tersebut. Jika si penemu menyebutkan semua cirri benda temuan tersebut sehingga ada orang yang mengaku-ngaku, maka ia wajib ganti rugi.

Berdasarkan nilai atau kualitasnya, barang temuan bisa diklasifikasikan menjadi 3 golongan :

  1. Benda yang bernilai tinggi -> maka wajib diumumkan selama setahun
  2. Benda tersebut nilainya pertengahan, lebih rendah dari  golongan 1, tapi jika seseorang kehilangan benda tersebut, ia merasa sedih walau sebentar dan masih berusaha mencarinya pada umumnya
  3. Benda yang bernilai rendah yang jika seseorang kehilangan benda tersebut, maka dia tidak mencarinya
  • Adapun jika benda termasuk golongan dua, maka cukup diumumkan sampai kira-kira orang yang kehilangan tersebut tidak mencarinya lagi pada umumnya.
  • Adapun jika benda termasuk golongan tiga, yang pada umumnya orang yang kehilangan benda tersebut malas mencarinya lagi, maka si penemu boleh langsung memiliki benda tersebut tanpa perlu mengumumkannya.

Dalilnya adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati (menemukan) sebutir kurma di jalan. Kemudian beliau bersabda : “Seandainya kalau aku tidak takut ini termasuk harta shodaqoh, aku akan memakannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Muhaqqiq mengatakan : “Biaya mengumumkannya ditanggung oleh si penemu jika dia berniat memiliki barang tersebut. Tapi jika dia tidak berniat apa-apa, atau berniat untuk menyimpan barang tersebut untuk dikembalikan sewaktu-waktu, maka biaya mengumumkannya ditanggung oleh pemilik barang hilang tersebut.”

[5] Berdasarkan hadits : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang barang temuan emas dan perak. Maka beliau bersabda : “Kenalilah wadah dan tutupnya. Kemudian umumkanlah selama setahun. Jika pemiliknya tidak diketahui, maka manfaatkanlah barang tersebut dan status barang tersebut tetap sebagai barang titipan yang engkau pegang. Jika orang yang mencarinya datang pada suatu hari, maka serahkanlah padanya” (HR. Muslim)

[6] Jika ia ingin memiliki hasil penjualannya, dia harus mengumumkannya terlebih dahulu

[7] Pada hari dia berubah status menjadi pemilik benda temuan. Hal ini berlaku ketika dia menemukan hewan tersebut di padang pasir atau hutan atau sejenisnya dan sulit untuk membawanya ke daerah pemukiman. Adapun jika menemukannya di daerah pemukiman, maka tidak boleh memakannya, tetapi sebaiknya menjualnya karena mudah untuk menjual hewan di daerah pemukiman

[8] Bisa saja karena ia adalah hewan yang kuat seperti onta atau kuda, atau juga hewan yang larinya cepat seperti kelinci, atau juga hewan yang bisa terbang seperti burung

[9] Dan tidak boleh diambil karena hewan-hewan tersebut bisa menjaga dirinya sendiri dari tangan-tangan khianat karena hanya sedikit manusia yang berjalan melewati gurun

[10] Yang benar hanya dua pilihan saja. Yakni tidak memakannya tetapi merawatnya dengan biayanya sendiri atau menjualnya dan menyimpan hasil penjualannya. Dan tidak boleh menyembelihnya untuk dimakan karena di daerah pemukiman, mudah untuk menjual hewan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: