Hukum Asal Perintah dan Larangan

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullahu mengatakan :

“Hukum asal perintah yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah wajib, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa hukumnya adalah sunnah atau mubah.

Dan hukum asal larangan yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah haram, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa hukumnya adalah makruh”

Berikut ini ringkasan penjelasan Syaikh Dr. Abdullah Al Fauzan hafizhahullah terhadap kaidah di atas :

Ada beberapa kaidah yang dibutuhkan oleh seorang faqih untuk menyimpulkan hukum suatu perbuatan dan untuk berfatwa atau sejenisnya, dua diantaranya adalah :

  1. 1.       Hukum asal dari perintah terhadap suatu perbuatan yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut.

Ini adalah pendapat jumhur ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan :

“Perintah Allah dan Rasul-Nya jika bersifat mutlak, maka konsekuensinya (perintah tersebut) adalah wajib”[1]

Dalil kaidah ini banyak sekali, diantaranya adalah :

  • Firman Allah Ta’ala

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur : 63)

Sisi pendalilan :

Allah Ta’ala memberikan ancama terhadap orang-orang yang menyelisihi  perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan fitnah : yakni hati yang condong pada kesesatan, atau dengan adzab yang pedih. Dan seseorang tidaklah diancam dengan hal tersebut kecuali karena meninggalkan hal yang wajib.

Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata : “Para fuqaha berdalil dengan ayat ini bahwa hukum asal perintah adalah wajib[2]

  • Firman Allah Ta’ala

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka . Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Al Qurthubi mengatakan : “(Ayat) ini adalah dalil yang paling tegas yang menunjukkan benarnya pendapat jumhur…  Bahwasanya shighoh (افعل)[3] makna asalnya adalah menunjukkan wajib. Karena Allah Tabaraka wa Ta’ala meniadakan pilihan lain bagi seorang mukallaf ketika mendengar perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah memutlakkan penyebutan maksiat kepada orang yang masih memiliki pilihan lain ketika telah ada perintah. Lalu Allah mengkaitkan maksiat dengan kesesatan. Maka haruslah memaknai perintah dengan kewajiban”[4]

Contoh penerapan kaidah ini :

Firman Allah Ta’ala

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al A’raaf : 204)

Ini adalah perintah secara mutlak, maka menghasilkan hukum wajibnya mendengar dan diam ketika Al Qur’an dibacakan secara mutlak, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Maka perintah di ayat ini menjadi dalil tidak wajibnya makmum membaca surat Al Fatihah dalam shalat jahriyyah jika ia mendengar bacaan imam. Sebagian ulama berpendapat ada pengecualian dalam membaca Al Fatihah bagi makmum dalam shalat jahr karena ada dalil yang men-takhsish masalah ini. Tapi ini adalah masalah yang diperselisihkan ulama. Intinya, hukum asal perintah adalah wajib.

Dan hukum asal perintah tidaklah berubah dari wajib kecuali ada dalil yang merubah hukum asal tersebut menjadi sunnah ataupun mubah atau selainnya.

Contoh :

Hadits Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“صلوا قبل المغرب” قال في الثالثة : “لمن شاء..”

“Shalatlah kalian sebelum  shalat maghrib. Kemudian beliau bersabda setelah mengucapkan hal tersebut tiga kali : “Bagi siapa yang ingin…”[5]

Maka sabda beliau : “Bagi siapa yang ingin…” adalah qarinah bahwa perintah beliau “Shalatlah kalian” bukanlah sebuah kewajiban.

Contoh perubahan hukum perintah dari wajib menjadi mubah :

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا

“dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berburulah” (QS. Al Maidah : 2)

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi” (QS. Al Jumu’ah : 10)

Dua ayat di atas menunjukkan bolehnya berburu setelah ibadah haji selesai dan bolehnya melakukan jual-beli lagi setelah selesai shalat jum’at. Karena kaidahnya :

Setiap perintah yang datang setelah adanya larangan hal tersebut, maka hukumnya kembali ke keadaan sebelumnya, yakni boleh

Penerapan kaidah di dalam 2 ayat di atas :

Ketika sedang melaksanakan haji, orang tidak boleh berburu binatang buruan. Akan tetapi setelah haji selesai, maka hukumnya kembali ke keadaan asal, yakni orang boleh berburu lagi.

Yang kedua, hukum asal jual-beli adalah boleh. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang jual-beli setelah terdengar adzan shalat jum’at. Setelah shalat jum’at selesai, Allah memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Maka perintah Allah dalam ayat tersebut tidaklah bermakna wajib, tapi kembali ke hukum asal jual-beli, yakni boleh Karena perintah tersebut terletak setelah larangan. Mudah-mudahan dapat dipahami.

  1. 2.       Hukum asal dari larangan terhadap suatu perbuatan yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah menunjukkan terlarangnya perbuatan tersebut kecuali ada dalil yang  merubah hukum asal tersebut menjadi makruh atau selainnya.

Diantara dalilnya adalah :

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr : 7)

Sisi pendalilan :

Allah Ta’ala memerintahkan untuk meninggalkan perbuatan yang dilarang. Maka meninggalkan perbuatan tersebut adalah wajib karena perintah yang datang dalam bentuk mutlak menunjukkan wajibnya hal tersebut sebagaimana penjelasan yang telah lalu.

Imam Syafi’I rahimahullah mengatakan : “Hukum asal larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setiap apa yang beliau larang, maka hal tersebut adalah haram sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa beliau melarang hal tersebut dengan maksud bukan untuk mengharamkan hal tersebut”[6]

Contoh :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تصلوا إلى القبور و لا تجلسوا عليها

“Janganlah kalian shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya”[7]

Hadits ini menunjukkan terlarangnya shalat menghadap kubur atau duduk di atasnya karena tidak ada dalil yang mengubah hukum asal larangan tersebut.

Adapun jika dijumpai dalil yang mengubah hukum asal dari larangan menjadi makruh, maka hukumnya berubah menjadi makruh.

Contoh :

لا يمسنّ أحدكم ذكره بيمينه و هو يبول

“Janganlah salah seorang kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan sedangkan ia sedang buang air kecil”[8]

Maka larangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan dibawa ke makna makruh sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar bahwa ini adalah pendapat jumhur.[9]

Dalil yang mengubah hukum asal larangan tersebut adalah hadits Qais bin Thalaq bin Ali, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya, apakah dia wajib berwudhu? Beliau bersabda,

لا, إنما هو بضعة منك

“Tidak. Sesungguhnya itu adalah potongan daging dari tubuhmu”[10]

Yakni tidak perlu berwudhu karena menyentuh kemaluan sama saja seperti menyentuh tubuh atau anggota badan yang lain, karena kemaluan adalah bagian dari tubuh. Wallahu a’lam.

(Diringkas dari Jam’l Mahshul fii Syarhi Risalati Ibni Sa’di fil Ushul  karya Syaikh Dr. Abdullah Al Fauzan hal. 52-55, cet. Darul Muslim)


[1] Al Qawa’id An Nuuraniyyah hal. 26

[2] Tafsir Al Qurthubi (12/322)

[3] Yakni shighoh fi’il amr, kata kerja yang menunjukkan perintah

[4] Tafsir Al Qurthubi (14/188)

[5] Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 1182

[6] Al Umm (7/305)

[7] HR. Muslim no. 972 dari shahabat Abu Martsad Al Ghanawy radhiyallahu ‘anhu

[8] Syaikh Abdullah Al Fauzan mengatakan : “Diriwayatkan oleh Al Bukhari (no. 153) dan Muslim (no. 267 dan 63)

[9] Fathul Bari (1/253)

[10] HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An Nasa’i. Syaikh Abdullah Al Fauzan mengatakan : “Ini adalah hadits shahih dan memiliki beberapa jalur periwayatan”

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: