3 Metode Pendalilan Al Qur’an dan As Sunnah Dalam Menetapkan Shifat Allah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menjelaskan metode pendalilan Al Qur’an dan As Sunnah dalam kitab beliau yang sangat bagus dalam masalah tauhid asma wa shifat, Al Qawa’idul Mutsla fi Shifaatillahi wa Asmaa-ihil Husna  (القواعد المثلى في صفات الله و أسمائه الحسنى) beliau berkata :

Ada 3 cara pendalilan Al Qur’an dan As Sunnah dalam menetapkan shifat :

Pertama               : Dengan penegasan (bahwa Allah memiliki shifat demikian dan demikian). Contoh :

العزة (kemuliaan), القوة (kuat), الرحمة (kasih sayang), البطش (menghukum), الوجه (wajah), اليدين (2 tangan), dan sejenisnya.

Kedua                   : Shifat yang diambil dari nama Allah.

Contoh :

Al Ghofur (Yang Maha Pengampun) mengandung sifat maghfiroh (mengampuni)

As Samii’ (Yang Maha Mendengar) mengandung sifat as sam’u (mendengar)

Ketiga                   : Dengan menegaskan perbuatan atau menggunakan isim shifat yang menunjukkan pada sifat Allah.

Contoh :

Istiwa di atas ‘arsy, turun ke langit dunia, datang untuk memberi keputusan di antara hamba pada hari kiamat, membalas/menghukum orang-orang yang berbuat dosa.

Dalil-dalilnya secara urut adalah :

–          Istiwa

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha : 5)

–         Turun ke langit dunia

ينزل ربنا إلى السماء الدنيا

“Rabb kita turun ke langit dunia…”[1]

–          Datang

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris” (QS. Al Fajr : 22)

–          Membalas/menghukum

إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa” (QS. As Sajdah : 22)

Maka jika ada orang yang bertanya :

“Bagaimana metode pendalilan untuk mengetahui shifat Rabb Jalla wa ‘Ala yang engkau jelaskan bahwa shifat Allah itu tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal dalam menetapkan shifat Allah, dan shifat Allah itu tidak ditetapkan kecuali dengan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah?”

Maka Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pendalilan shifat Allah dalam Al Qur’an dan As Sunnah itu ada 3 metode :

  1. 1.       Menegaskan sifat tersebut

Contohnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS. Al Munafiqun : 8)

Dan juga firman Allah Ta’ala :

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

“Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat” (QS. Al Kahfi : 58)

  1. 2.       Sifat itu diambil dari kandungan dalam nama Allah

Keyakinan Ahlus sunnah wal jama’ah adalah bahwa setiap nama Allah ‘Azza wa Jalla mengandung sifat. Maka nama Ar Rahman dan Ar Rahiim mengandung sifat kasih sayang. Al ‘Aziiz mengadung sifat keperkasaan. Al Hakiim mengandung sifat yang menghakimi dan bijaksana. Al Qawiy mengandung sifat kuat. Al Ghafur mengandung sifat ampunan. Dan seterusnya.

  1. 3.       Dengan menyebutkan (isim) sifat atau perbuatan untuk menunjukkan kepada sifat Allah

Contoh dengan menggunakan isim sifat adalah firman Allah Ta’ala :

إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa” (QS. As Sajdah : 22)

Muntaqimuun adalah isim fa’il[2] dan isim fa’il termasuk isim sifat sehingga kata muntaqimuun menunjukkan sifat Al Intiqaam yakni membalas.

Contoh dengan menggunakan perbuatan (fi’il) adalah firman Allah Ta’ala :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha : 5)

Fi’il (kata kerja) istawaa menunjukkan pada sifat Al Istiwaa.

Contoh lain dari sunnah :

ينزل ربنا

“Rabb kita turun…”[3]

Fi’il yanzilu menunjukkan pada sifat An Nuzuul (turun).

Demikian pembahasan kali ini. Wallahu a’lam bis shawab.

(Diterjemahkan secara bebas dari kitab Fathul ‘Aliyyil A’laa bi Syarhi Qawa’idil Mutslaa karya Fadhilatusy Syaikh ‘Ubaid bin Abdullah Al Jabiri hafizhahullahu hal.152-154, penerbit Maktabah Al Furqon, cet. Ke-2 tahun 1429 H dengan beberapa perubahan susunan dan tambahan)


[1] Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhahullahu Ta’ala mengatakan : “Dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam kitab At Tahajjud bab Ad Du’aa was Sholaatu min Aakhiril Laili, nomor 1145. Dikeluarkan juga oleh Muslim dalam kitab Shalaatul Musaafirin wa Qashruhu bab At Targhib fid Du’aa wadz Dzikri Aakhiral Laili wal Ijaabatu fiihi nomor 1758

[2] Isim fa’il adalah isim yang bermakna pelaku suatu perbuatan atau yang dianggap pelaku, seperti pembeli, pemakai, penjual, pengendara, dan seterusnya

[3] Takhrij hadits lihat footnote no. 1

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: