Nama Dan Shifat Allah Itu Tauqifiyyah

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang memiliki nama-nama yang paling baik, Yang memiliki sifat sempurna dari segala sisi, dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Sempurna dari segala sisi, tidak memiliki kekurangan sedikitpun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memiliki nama-nama yang indah sebagaimana firman-Nya :

و لله الأسماء الحسنى

Hanya milik Allah asmaa-ul husna” (QS. Al A’raf : 180)

                Dalam banyak ayat-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri berbagai nama dan shifat. Begitu juga dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau telah menetapkan berbagai nama dan shifat bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah pasti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak sembarangan dalam menetapkan nama dan shifat bagi Allah. Apa yang beliau ucapkan sejatinya adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah berfirman,

و ما ينطق عن الهوى. إن هو إلا وحي يوحى

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An Najm : 3-4)

Nama-nama dan shifat-shifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini haruslah kita tetapkan sesuai dengan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri di dalam Al Qur’an maupun apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tetapkan bagi Allah dalam hadits-hadits yang shahih. Istilahnya, nama dan shifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu tauqifiyyah.

Yang dimaksud tauqifiyyah adalah menetapkan nama untuk Allah itu tergantung/mengikuti dalil Al Qur’an dan As Sunnah, tidak boleh bagi seseorang untuk menetapkan nama dan shifat bagi Allah dengan nama dan shifat yang tidak terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah memberikan kaidah yang sangat bagus dalam hal ini :

Nama-nama Allah itu tauqifiyyah, tidak ada tempat bagi akal (dalam menetapkan nama bagi Allah). Berdasarkan hal ini, wajib mengikuti dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah dalam menetapkan nama bagi Allah. Maka nama-nama Allah tidaklah ditambah dan dikurangi (sesuai kehendak akal) karena akal tidak mungkin mengetahui nama-nama yang pantas bagi Allah Ta’ala. Maka wajib mengikuti dalil dalam menetapkan nama bagi Allah.

Kenapa tidak boleh menetapkan nama bagi Allah tanpa dalil?

Ada sebagian kaum muslimin yang terjerumus kesalahan dalam menetapkan nama bagi Allah. Mereka menetapkan nama dan shifat bagi Allah menurut akal mereka yang terbatas! Kalau dikira-kira nama atau shifat ini cocok bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka memutuskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala pantas memiliki nama tersebut. Subhanallah! Kita Tanya pada mereka :

Siapa yang lebih tahu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, anda ataukah Allah sendiri?!

Berikut ini alasan terlarangnya menetapkan nama bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan nama yang tidak terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah :

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

و لا تقف ما ليس لك به علم إن السمع و البصر و الفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Israa : 36)

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

قل إنما حرّم ربي الفواحش ما ظهر منها و ما بطن و الإثم و البغي بغير الحق و أن تشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا و أن تقولوا على الله ما لا تعلمون

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”” (QS. Al A’raf : 33)

Faidah :

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan empat perbuatan yang diharamkan dengan memulai urutan penyebutan dari perbuatan yang paling ringan kemudian yang lebih berat kemudian yang lebih berat lagi sampai mengakhirinya dengan yang paling berat dan paling besar, yakni berkata tentang Allah tanpa ilmu”

Kenapa bisa demikian?

Ada yang menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu akan membawa pada dosa-dosa lainnya (faidah dari Ust. Muhammad Abduh Tuasikal). Ada juga yang menjelaskan bahwa yang dimaksud lebih besar adalah lebih besar dampaknya. Jika kesyirikan hanya berdampak kepada si pelaku, berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa ilmu akan berdampak bagi si pelaku dan masyarakat luas (faidah dari Ustadz Aris Munandar). Apalagi jika tampil di tv yang ditonton jutaan pasang mata. Jika dia berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa ilmu, jutaan orang yang menonton akan mendapat ilmu agama yang salah sehingga bisa merusak aqidah jutaan umat dan membuat umat melakukan amalan yang dilakukan tidak sesuai petunjuk Rasulullah sehingga amalan mereka tidak diterima Allah. Wallahul musta’an

Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhahullah mengatakan :

“Sisi pendalilan (haramnya menetapkan nama bagi Allah tanpa dalil) dari dua ayat di atas adalah penetapan nama bagi Allah Jalla wa ‘Alaa dengan nama yang tidak Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam kitab-Nya atau yang telah sah dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah termasuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan mengikuti kebodohan serta asal bicara. Dan si pembicara tersebut tidaklah memiliki ilmu tentang nama yang ia tetapkan untuk Rabb-Nya”

3. Alasan ketiga, bagaimanapun juga akal dengan segala keterbatasannya tidaklah mungkin mengetahui nama-nama dan shifat-shifat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala inginkan untuk diri-Nya. Berdasarkan hal ini, wajib mengikuti dalil dan menetapkan segala nama yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan menetapkan apa yang Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tetapkan untuk-Nya di dalam hadits-haditsnya yang shahih.

4. Menetapkan nama bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan nama yang tidak Allah tetapkan untuk diri-Nya adalah sebuah kejahatan terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan adab yang jelek kepada-Nya.

Maka wajib bagi ktia untuk beradab kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan adab-adab yang membuat Allah ridha, yaitu dengan mengikuti dalil Al Kitab dan As Sunnah. Seperti inilah seharusnya seorang sunni salafi yang mana mereka termasuk golongan Firqotun Najiyah dan Ath Thoifah Al Manshurah dan Ashhabul Atsar, yakni berjalan di atas dalil ketika menetapkan dan menafikan nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak menjadikan akalnya sebagai hakim lantas dalil mengikuti akal. Tetapi menjadikan akalnya mengikuti dalil sehingga dalil-lah yang diikuti.

Karena di sisi ahlussunnah, sudah menjadi kaidah baku bahwa apa-apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala inginkan berupa hukum-hukum syari’at dalam masalah aqidah, ibadah, atau mu’amalah di antara manusia, maka pasti terdapat di dalam kitab-Nya atau  di sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang shahih. Wallahu a’lam.

(Diterjemahkan secara bebas dari kitab Fathul ‘Aliyyil A’laa bi Syarhi Qawa’idil Mutslaa karya Fadhilatusy Syaikh ‘Ubaid bin Abdullah Al Jabiri hafizhahullahu hal.73-76, penerbit Maktabah Al Furqon, cet. Ke-2 tahun 1429 H dengan beberapa perubahan susunan dan tambahan)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: