Definisi Hadits Dan Syarat Hadits Shahih

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjaga kemurnian agama Islam ini dengan menjaga kemurnian Al Qur’an maupun sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang telah menyampaikan risalah dari langit hingga sampai kepada kita saat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarganya, shahabatnya, dan yang mengikuti sunnah beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, telah kita lalui pembahasan mengenai pentingnya sanad atau isnad dalam agama ini dimana sanad ini yang mengantarkan kita kepada teks hadits yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan pada saat beliau masih hidup. Insya Allah sekarang kita mulai masuk ke pembahasan inti yang berkaitan tentang ilmu mushthalahul hadits.

Pengertian hadits

Hadits adalah setiap yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir (persetujuan), maupun sifat-sifat beliau.

Hadits jenisnya bermacam-macam. Pertama akan kita bahas hadits shahih.[1]

Definisi hadits shahih

Hadits shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung dari awal sanad sampai akhir sanad, diriwayatkan oleh para perowi yang ‘adil dan kuat hafalannya,  dan tidak syadz serta bebas dari cacat.

Syarat hadits shahih

Hadits shahih memiliki empat syarat :

  1. Bersambung sanadnya (الإتصال)
  2. Diriwayatkan oleh rowi yang ‘adil dan kuat hafalannya
  3. Tidak syadz
  4. Tidak ada cacat

Beberapa istilah dalam bab ini

الإتصال

Yakni sanadnya bersambung, dimana seorang rowi mendengar hadits dari rowi sebelumnya, misal seorang murid mendengar hadits langsung dari gurunya.

العدل

‘adil adalah rowi yang memiliki berbagai sifat mulia yang membuat dirinya menjadi orang yang bertaqwa, menjauhi maksiat, dan menjaga kehormatan dirinya dihadapan manusia.

الضبط

Dhobt adalah kuatnya hafalan seorang rowi, dalamnya pandangannya, baiknya pemahamannya terhadap suatu permasalahan, kokohnya hafalan, dan senantiasa menjaga hadits-hadits yang ia tulis sejak ia mendengarnya sampai ketika ia menyampaikannya ke orang lain.

Dhobt memiliki dua jenis :

1-      ضبط الصدر (Dhobthu Ash Shodri)

Yakni seorang rowi menghafal hadits yang ia dengar dengan hafalan yang baik sehingga hafalannya bisa ia keluarkan kapan pun ia mau.

2-      ضبط الكتاب (Dhobthul Kitaab)

Yakni seorang rowi menjaga kitab hadits yang ia tulis sejak ia mendengarnya dan menilai hadits itu shahih sehingga layak ditulis ke kitabnya sampai ketika menyampaikan ke orang lain, dan tidak menyerahkan kitabnya kepada orang yang tidak bisa menjaga kitab atau kepada orang yang berniat buruk untuk mengganti isinya.

الإسناد

Isnad atau sanad adalah rantai perowi hadits yang mengantarkan kita sampai ke teks matan hadits.

الشذوذ

Syadz adalah riwayat dari perowi yang maqbul (diterima haditsnya) akan tetapi menyelisihi hadits lain yang diriwayatkan oleh yang lebih baik darinya, baik dari segi kuantitas perowi maupun kualitas ke-tsiqoh-an perowinya.

العلة

‘illah adalah sebab yang merusak ke­-shahih-an suatu hadits yang hadits tersebut zhahirnya (tampak sekilasnya) shahih dan tidak ada cacatnya. ‘illah atau cacat pada hadits ini tidak terlihat kecuali oleh para ulama ahli hadits yang mendalam ilmunya.

Contoh hadits shahih

قال البخاري في “صحيحه” : حدثنا عبد الله بن يوسف؛ قال : أخبرنا مالك عن إبن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه؛ قال : ((سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم قرأ في المغرب ب (الطور) ))

Imam Bukhari rahimahullahu berkata di dalam kitab Shahih-nya : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf; ia berkata : Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya; ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Ath Thur ketika maghrib”.

Hadits ini adalah hadits shahih karena semua syarat hadits shahih sudah terpenuhi, sanadnya bersambung, rowinya tsiqoh, tidak syadz, dan tidak ada ‘illah atau cacat padanya.

Demikian pembahasan singkat tentang hadits dan hadits shahih. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.


[1] Urutan pembahasan di sini menyesuaikan kitab At Ta’liqaat Al Atsariyyah karya Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi hafizhahullah

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: