Warna-Warni Riya’ Dalam Lapangan Ilmu

Diantara hal yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takutkan menimpa umat beliau adalah syirik kecil, yaitu riya’. Beliau bersabda,

“إنّ أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر”. قالوا : “و ما الشرك الأصغر يا رسول الله؟” قال : “الريا”

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Para shahabat bertanya : “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “(yaitu) riya“. (HR. Ahmad; dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 32)

Bahaya riya’ memang sangat besar. Ditambah lagi dengan samarnya keberadaan riya’ pada diri seseorang sehingga terkadang seseorang tidak sadar dirinya sedang terjangkiti virus riya’. Ia mengira ia aman dari riya’, tetapi ternyata ia sudah masuk perangkap iblis dan berbangga dengan ilmu dan amalnya, senang dipuji, senang dikatakan seorang ikhwan yang banyak hafalannya, dan sebagainya. Allahul musta’an.

Ingatkah kita tentang kisah tiga orang yang pertama kali diadzab di neraka? Dahulu manusia menyebut mereka dengan sebutan-sebutan yang menjadi mimpi sebagian besar dari kita. Pemberani, ‘alim dan qori , dan dermawan. Tiga panggilan yang istimewa bukan? Akan tetapi, justru panggilan-panggilan tersebut menjerumuskan mereka ke dalam pedihnya siksa neraka. Kenapa? Karena tidak ikhlasnya segala daya dan upaya mereka dalam menggapai sebutan tersebut. Hanya karena mengharapkan pujian manusia membuat mereka melupakan tujuan beramal yang sebenarnya, yakni ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.[1]

Bahkan dikalangan penuntut ilmu pun, orang-orang yang sudah mengerti betapa berbahayanya riya’, tidak sedikit yang terjangkiti virus riya’ ini –semoga Allah senantiasa melindungi kita dari riya’ dan bahayanya. Iblis memang cerdik sekali menggelincirkan manusia, terlebih manusia yang diberikan kelebihan berupa cepatnya pemahaman, kuatnya hafalan, merdunya suara, dan lainnya. Na’am, memang tidak semua yang memiliki karunia di atas berarti pasti terjangkiti riya’, bahkan yang tidak Allah berikan karunia berupa berbagai kelebihan seperti di atas pun dapat terjangkiti riya’. Maka sudah sepantasnya kita semua mewaspadai penyakit yang satu ini mengingat besarnya bahayanya.  Diantara warna-warni riya’ dalam lapangan ilmu adalah sebagai berikut :

1.       Terlalu berani berfatwa dan tergesa-gesa untuk mengajar

Akibat kurangnya rasa takut kepada Allah, cinta popularitas, dan senang disebut sebagai ‘orang ‘alim’ atau senang dipanggil ‘Pak ustadz’, seorang penuntut ilmu akan dengan mudahnya berfatwa tanpa  ilmu. Jika datang pertanyaan atau sebuah permasalahan agama kepadanya, dengan ringannya dia akan mengatakan : “menurutku begini… , kalau  kataku seperti ini… , dsb“ , wallahul musta’an. Aduhai, betapa mudahnya lisan ini berbicara masalah agama tanpa ilmu! Padahal berbicara masalah agama berarti turut berbicara masalah keselamatan seseorang dari adzab Allah di hari Kiamat kelak! Bagaimana jika jawaban yang ia hasilkan dari buah pikirannya sendiri tersebut salah sehingga menyebabkan orang yang bertanya salah dalam beribadah sehingga tidak diterima Allah? Rasa takutnya untuk dikatakan ‘tidak tahu’ oleh manusia mengalahkan rasa takutnya kepada Allah…

Padahal para ulama terdahulu, rasa takut mereka kepada Allah mengalahkan rasa takutnya untuk dikatakan ‘tidak tahu’…

Abu Dawud berkata,

Tak terhitung jumlahnya aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang permasalahan yang masih diperselisihkan, beliau berkata : “Aku tidak tahu”

Imam Ahmad berkata,

Aku tidak pernah melihat fatwa yang lebih bagus dari fatwa Sufyan bin ‘Uyainah, ia amat ringan untuk berkata “tidak tahu”

Ibnul Qayyim berkata,

Para ulama salaf dari kalangan shahabat dan tabi’in tidak suka tergesa-gesa dalam berfatwa, dan setiap mereka berharap agar saudaranyalah yang menjawabnya. Dan bila ia melihat sudah menjadi keharusan baginya, maka ia mengeluarkan semua kesungguhannya untuk mengetahui hukumnya dari Al Qur’an dan Sunnah atau pendapat Khulafa Ar Rasyidin, kemudian (baru) berfatwa

2.       Sibuk dengan ilmu yang bersifat fardhu kifayah dan meninggalkan yang fardhu ‘ain

Ia sibuk memperdalam ilmu-ilmu qira’at dan makhrajnya, namun meninggalkan yang lebih utama darinya, yaitu mentadabburi makna-maknanya. Ia memperdalam permasalahan-permasalahan fiqih yang amat pelik namun meninggalkan ilmu tauhid dan ikhlas. Namun bukan berarti kita berburuk sangka kepada mereka, akan tetapi perbuatan tersebut termasuk langkah-langkah setan dalam menggoda manusia.

3.      Suka berdebat dalam agama

Sifat ini digemari oleh orang-orang yang terfitnah dengan popularitas, dan ingin menunjukkan kehebatannya dalam berdebat dengan mengalahkan lawan debatnya. Ia keluarkan seluruh dalil-dalil yang telah ia hafalkan dalam kepalanya, ia  permalukan lawan debatnya, dan akhirnya ia tersenyum puas jika sudah meng-KO lawan debatnya. Ya akhi, sungguh ini adalah tanda-tanda yang tidak baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء و إن كان محقا…

“Aku menjamin dengan sebuah rumah di pinggir surga untuk orang yang meninggalkan al miraa (debat kusir) walaupun ia di pihak yang benar…” (HR. Abu Dawud; dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4015)

Imam Al Auza’I berkata,

Apabila Allah menginginkan keburukan kepada suatu kaum, Allah bukakan kepada mereka pintu jidal dan menutup untuknya pintu amal

                Para ulama salaf, dahulu mereka berdialog bila dalam keadaan terpaksa saja. Dan adanya orang-orang yang tergelincir dalam masalah ini adalah karena niat yang tidak baik, padahal para ulama salaf lebih memperhatikan amal dari berbicara. Adapun sekarang, banyak dari kita yang lebih banyak memperhatikan berbicara karena ingin dianggap unggul. Allahul musta’an.

4.       Marah bila dikritik dan bersikap dingin kepada orang yang menyelisihinya serta berbangga dengan banyaknya pengikut

Saudaraku –semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari riya’ dan bahayanya– orang yang memiliki sifat di atas adalah pertanda bahwa ada yang tidak beres dalam niatnya baik ketika menuntut ilmu maupun berdakwah. Ia marah ketika diingatkan kesalahannya, ia membenci orang yang tidak mau mengikuti pendapatnya, ia sedih ketika majelis yang ia buka hanya segelintir orang saja yang datang dan bisa dihitung dengan jari, dan ia bangga ketika jari-jari ini sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak orang yang hadir dalam majelisnya saking banyaknya. Orang yang seperti ini sudah pasti ada yang tidak beres dalam perjalanannya menuntut ilmu.

Imam Adz Dzahabi berkata,

Tanda orang yang ikhlas, yang kadang tak terasa masih menyukai ketenaran adalah bila ia diingatkan tentang hal itu, hatinya tidak merasa panas, dan tidak membebaskan diri darinya, namun ia mengakuinya dan berkata,

“Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aibku”.

Ia tidak berbangga dengan dirinya, dan penyakit yang berat adalah bila ia tidak merasakan aibnya tersebut

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

Wahai, kasihannya engkau…

Engkau berbuat buruk tetapi engkau merasa berbuat baik,

Engkau tidak tahu tetapi merasa selevel dengan ulama,

Engkau kikir tetapi merasa dermawan,

Engkau pandir tapi merasa pintar dan berakal,

Ajalmu pendek namun angan-anganmu panjang

Itulah keadaan wali-wali Allah Ta’ala yakni para ulama rabbani, fa aina nahnu minhum? Dimanakah posisi kita dari mereka?

فأين نحن منهم؟

Ya akhi…

Sudah berapa lama kita mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah…

Sudah berapa banyak ayat dan hadits yang sudah kita hafalkan…

Sudah berapa banyak artikel nasihat yang kita tulis…

Sudah berapa kali kita berbicara di mimbar untuk berdakwah…

Tapi ya akhi…

Sudah berapa banyak amalan yang kita lakukan semata-mata hanya mengharap ridha Allah?

Hanya Allah dan diri kita sendiri yang mengetahui jaawabannya…

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meluruskan niat penulisnya ketika menulis artikel ini. Semoga apa yang tersaji bermanfaat baik bagi diri kami pribadi maupun bagi saudara kami kaum muslimin dimanapun berada. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

(Diringkas dari buku “Yang Aku Khawatirkan Atas Umatku” karya Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc hafizhahullahu hal. 38-43 dengan beberapa tambahan dan penyesuaian bahasa)


[1] Lihat kisah selengkapnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1905 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Tag:

2 responses to “Warna-Warni Riya’ Dalam Lapangan Ilmu”

  1. Dui Abdullah Tholabul Ilmi says :

    jazakulloh khoir….sangat menyentuh ahti ana

  2. ibnuabizakarya says :

    و جزاك الله خيرا

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: