Pengertian Manthuq dan Mafhum

Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata :

Hukum-hukum syari’at terkadang disimpulkan dari manthuq-nya, yakni teks dalil yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu.

Dan terkadang diambil dari mafhum-nya, yakni (sesuatu yang dipahami dari makna dalil dan bukan dari teksnya-ed) yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu.

Dengan mafhum muwafaqoh jika mafhum-nya tersebut hukumnya sama dengan manthuq-nya atau lebih tinggi lagi.

Atau dengan mafhum mukholafah jika hukum mafhum-nya berlawanan dengan manthuq-nya. Bisa jadi karena manthuq dalil disifati dengan sifat tertentu atau diberi syarat dengan syarat tertentu lalu mafhum dalil menyelisihi sifat atau syarat yang ada pada manthuq sehingga hukum keduanya menjadi berbeda atau berlawanan.

Syarah oleh Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan hafizhahullahu :

  • المنطوق (manthuq) adalah teks dalil yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu, yakni dalalah-nya (makna yang ada pada dalil) ada pada huruf-huruf penyusun dalil tersebut.

Contoh : firman Allah Ta’ala :

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

“Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”“ (QS. Al Israa : 23)

Dari teks ayat tersebut (manthuq) dapat disimpulkan bahwa hukum ta’fif (berkata ‘ah’) adalah haram.[1]

Contoh kedua : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

في سائمة الغنم الزكاة

“Kambing yang digembala ada zakatnya” (HR. Abu Dawud no. 1568 dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang. Dan Bukhari meriwayatkan hadits yang semakna dengannya)

Manthuq (teks) dalil ini menunjukkan bahwasanya wajib bayar zakat dari kambing yang digembalakan, yakni yang yang digembalakan lebih dari 6 bulan.

  • المفهوم (mafhum) adalah hukum yang ditunjukkan oleh suatu dalil tapi bukan dari teksnya, melainkan makna dibalik teks dalil.

Contoh : pada ayat di contoh sebelumnya, dipahami dari manthuq-nya bahwa ta’fif (ucapan ‘ah’) adalah haram. Berdasarkan makna dibalik teks pada ayat, dipahami juga bahwa haram memukul atau mencela orang tua atau sejenisnya. Inilah yang disebut mafhum.

Padahal yang tertera pada teks hanya larangan ta’fif. Inilah yang dimaksud manthuq. Tapi dari teks tersebut, dipahami bahwa memukul dan mencela orang tua itu terlarang juga. Padahal larangan memukul dan mencela tidak tertera pada teks, akan tetapi makna dibalik teks menunjukkan terlarangnya hal tersebut. Inilah yang dimaksud mafhum.

  • Mafhum ada dua jenis :

1. Mafhum muwafaqoh

Yakni hukum maskut ‘anhu[2]nya sama dengan manthuq karena sebab kedua hal tersebut sama (‘illah-nya sama).

Ada dua jenis mafhum muwafaqoh :

a.       Hukum maskut ‘anhu-nya lebih tinggi daripada manthuq-nya

Contohnya pada ayat sebelumnya. Mafhum ayat menunjukkan bahwa terlarang memukul dan mencaci orang tua atau melaknatnya atau sejenisnya. Makna ini bisa dipahami hanya dengan sekedar paham tata bahasa, tidak perlu pembahasan lebih rinci. Dan pada ayat ini hukum maskut ‘anhu-nya sama dengan manthuq-nya, yakni sama-sama terlarang/haram. Akan tetapi larangan maskut ‘anhu-nya lebih besar daripada manthuq-nya. Maka Allah Ta’ala pada ayat ini mengingatkan dengan larangan yang lebih rendah untuk larangan yang lebih tinggi lagi. Jika berkata ‘ah’ saja dilarang, apalagi memukul orang tua?

b.      Hukum maskut ‘anhu-nya sama derajatnya dengan manthuq-nya

Contoh firman Allah Ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (QS. An Nisaa’ : 10)

Manthuq ayat menunjukkan haramnya memakan harta anak yatim. Dan mafhum ayat menunjukkan pula haramnya membakar, menenggelamkan, atau merusak harta anak yatim dengan berbagai jenis alat perusak. Maka perkara-perkara tersebut (maskut ‘anhu-nya) memiliki hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim secara zhalim yakni sama-sama merusak/merampas harta anak yatim yang miskin dan lemah yang tidak bisa menyelamatkan hartanya dari gangguan semacam itu. Maka Allah Ta’ala mengingatkan dengan larangan makan harta anak yatim secara zhalim agar tidak berbuat segala perusakan yang hukumnya sama dengan makan harta anak yatim secara zhalim.

  • Mafhum muwafaqoh adalah hujjah/dalil berdasarkan ijma’ ulama. Hal ini sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu beliau berkata :

“Mengingkari mafhum muwafaqoh adalah bid’ah zhahiriyyah yang tidak ada seorang salaf-pun yang mendahului mereka” (Majmu’ Fatawa, 21/207)

2. Mafhum mukholafah

Yakni hukum maskut ‘anhu-nya berbeda dengan manthuq-nya karena maskut ‘anhu-nya menyelisihi sifat-sifat atau syarat-syarat yang ada pada manthuq-nya.

Jika menyelisihi sifat manthuq, dinamakan mafhum sifat. Jika menyelisihi syarat manthuq, dinamakan mafhum syarat.

–          Mafhum sifat adalah pengkhususan hukum dengan suatu sifat yang bisa muncul dan bisa hilang.

Contoh : pada hadits kambing yang digembala, telah diketahui bahwa manthuq hadits menunjukkan bahwa kambing yang digembala ada zakatnya. Nabi mensifati bahwa yang ada zakatnya adalah kambing yang digembala. Mafhum-nya (yakni mafhum sifat),  bahwa kambing yang tidak digembala tidak ada zakatnya karena sifatnya berbeda sehingga hukumnya berbeda pula. Seandainya hukum maskut ‘anhu-nya sama dengan manthuq-nya, maka tidak ada faedahnya Nabi mengatakan “yang digembala”, padahal hukumnya sama saja, mau digembala mau tidak ya sama-sama ada zakatnya. Dan tidak mungkin Nabi mengucapkan hal yang tidak berfaedah seperti ini.

Yang dimaksud dengan sifat di sini adalah segala sesuatu yang menunjukkan pada suatu makna yang menyebabkan manthuq menjadi terkhususkan dengan sifat tersebut, dan sifat tersebut bukanlah syarat ataupun tujuan ataupun bilangan. Dan sifat di sini lebih luas dari na’at dalam ilmu nahwu.

–          Mafhum syarat adalah pengikatan hukum manthuq dengan suatu syarat, artinya hukum mafhum-nya berlaku dan berlawanan dengan manthuq-nya jika syaratnya hilang.

Contoh :

وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ

“Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya” (QS. Ath Thalaq : 6)

Manthuq ayat menunjukkan wajibnya menfkahi istri yang ditalaq yang sedang hamil. Mafhumnya, menafkahi istri yang ditalaq itu tidak wajib jika kondisi istri tidak sedang hamil. Karena jika menyelisihi syarat, maka hukumnya menjadi berbeda sebagaimana mafhum sifat.

  • Mafhum mukholafah adalah hujjah/dalil menurut jumhur ulama. Karena persyaratan yang ada dalam nash-nash syari’at pasti mengandung suatu faidah, yakni mengkhususkan hukum hanya pada hal yang disebutkan dalam teks dalil dan meniadakan hukum selain yang terdapat pada teks dalil tersebut. Inilah pendapat kibar shahabat radhiyallahu ‘anhum, kibar tabi’in, dan para ahli bahasa rahimahumullahu.

Tambahan faedah dari Ustadz Aris Munandar hafizhahullahu :

  • Mafhum mukholafah adalah hujjah dengan syarat tidak menyelisihi manthuq dalil lainnya.

Contoh : hadits yang diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan tentang air yang lebih dari 2 qullah maka tidak ternajisi oleh sesuatu (selama tidak berubah sifat fisiknya). Manthuq hadits menunjukkan bahwa air yang lebih dari 2 qullah tidak ternajisi selama sifat fisiknya tidak berubah. Mafhum-nya, jika air kurang dari 2 qullah jika kemasukan najis maka air tersebut akan menjadi najis walau sifat fisiknya tidak berubah.

Namun mafhum mukholafah hadits tersebut bertabrakan dengan hadits :

انّ الماء طهور لا ينجسه شيء

“Air itu suci dan tidak ternajisi oleh sesuatu” (HR. Ashhabus Sunan)

Sehingga mafhum mukholafah tidak bisa digunakan karena menyelisihi manthuq dalil lain.

و الله تعالى أعلم


[1] Dan jika dikaitkan dengan pelajaran sebelumnya, maka ayat tersebut mengandung nash, bukan zhahir. Dari sini jelaslah bahwa nash dan zhahir adalah bagian dari manthuq.

[2] Yakni perkara yang tidak disebutkan dalam teks dalil. Contoh pada ayat larangan ta’fif, memukul dan mencela orang tua adalah maskut ‘anhu

Tag:

One response to “Pengertian Manthuq dan Mafhum”

  1. julianasari78 says :

    Reblogged this on paper n makalah and commented:
    mata kuliyah ulumul quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: