Hukum Suatu Sarana Tergantung Hukum Tujuannya

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu mengatakan :

Dalam perkara mubah : sesungguhnya syari’at membolehkan dan mengizinkan perbuatan tersebut. Dan terkadang perkara mubah tersebut mengantarkan kepada kebaikan sehingga mubah digabungkan dengan perkara yang diperintahkan. Dan terkadang perkara mubah mengantarkan kepada keburukan sehingga digabungkan dengan perkara yang dilarang.

Maka ini adalah sebuah kaidah agung :

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum suatu sarana itu tergantung hukum tujuannya”

Dengan kaidah ini kita ketahui bahwa :

  • Sarana dari perbuatan wajib maka hukumnya adalah wajib.
  • Sarana dari perbuatan sunnah adalah sunnah.
  • Sarana terwujudnya suatu keharaman adalah haram.
  • Sarana dari perbuatan makruh adalah makruh.

Syaikh Abdullah Al Fauzan hafizhahullahu memberikan penjelasan ringkas terhadap perkataan Syaikh As Sa’di tersebut yang kami simpulkan dalam beberapa poin :

  • Perkara mubah di sini yakni mubah yang menjadi sarana untuk mengerjakan hal yang diperintahkan atau yang dilarang. Maka hukum sarana ini tergantung tujuannya. Jika mubah tersebut menjadi sarana terhadap kebaikan, maka sarana mubah tersebut diperintahkan syari’at dengan perintah wajib atau sunnah tergantung tujuannya. Dan pelakunya diberi pahala dengan sebab tersebut tergantung niatnya.

Contoh : tidur adalah suatu yang mubah. Namun jika dijadikan sarana untuk menguatkan badan untuk taat kepada Allah Ta’ala atau mencari rizki, maka tidur ini hukumnya berubah menjadi mustahab dan pelakunya diberi pahala karenanya.

Jika mubah tersebut menjadi sarana kepada perbuatan yang dilarang, maka perbuatan mubah tersebut menjadi terlarang baik haram maupun makruh tergantung tujuannya.

Contoh : haramnya menjual hal-hal yang pada asalnya mubah jika dia tahu bahwa si pembeli akan menggunakannya untuk maksiat, semisal menjual anggur pada orang yang akan membuat khomr.

Contoh lain : makan dan minum adalah mubah. Akan tetapi jika berlebihan melewati batas kemampuan perut untuk mencerna, maka makan dan minum tersebut menjadi makruh.

Contoh lain : bermain (yang bukan permainan haram) itu mubah. Tapi jika menyebabkan tertinggal sholat maka permainan tersebut menjadi haram.

  • الوسائل adalah jamak dari وسيلة. Yakni sesuatu yang mengantarkan kepada sesuatu lainnya (tujuannya).
  • المقاصد adalah jamak dari مقصد yakni tujuan. Dan yang dimaksud di sini : sesuatu yang dituntut.
  • Makna kaidah tersebut :

Hukum dari suatu hal yang menjadi tujuan tersebut berlaku pula kepada sarana yang mengantarkan pada tujuan tersebut. Sehingga sarana dari hal yang wajib hukumnya wajib. Sarana dari hal yang terlarang hukumnya terlarang. Jika ada suatu perbuatan yang diwajibkan syari’at, maka mengambil sarana untuk mengerjakan perkara wajib tersebut hukumnya wajib.

Contoh : sholat. Ditinjau dari kaidah di atas, maka menunaikan sholat adalah tujuannya. Dan berjalan untuk menunaikan sholat adalah sarana (wasilah). Karena sholat itu wajib, maka berjalan kaki hukumnya wajib juga. Dan kaidah ini berlaku pula untuk sarana kepada hal yang disunnahkan dan selainnya.

  • Dalil kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. At Taubah : 120)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَاتَهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ حَسَنَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.”[1]

Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah bersabda :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya”[2]

  • Kaidah utama ini memiliki empat cabang :

1. Sarana kepada hal yang wajib adalah wajib.

Yang dimaksudkan adalah perkara yang mampu dilakukan oleh seorang mukallaf dan sarana tersebut memang diperintahkan[3]. [4]

Contoh : berjalan untuk sholat, safar ke Mekkah untuk ibadah haji atau umrah (bagi yang mampu), pergi berkunjung ke orang tua untuk shilaturahmi, mencari air untuk wudhu, membeli air untuk wudhu jika harganya sesuai standar atau agak sedikit mahal tapi masih mampu, membeli pakaian untuk menutup aurot, dan sebagainya.

Akan tetapi jangan disalah pahami bahwa kaidah ini adalah dalil untuk menetapkan hukum wajibnya sesuatu hal yang tidak diwajibkan oleh syari’at. Kaidah ini hanya berlaku untuk perkara yang memang diwajibkan oleh syari’at sehingga sarana yang wajib ini menjadi wajib.

Terkadang, memang terdapat dalil disyari’atkannya sarana tersebut baik di dalam Al Qur’an atau As Sunnah. Contohnya firman Allah Ta’ala :

فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah” (QS. Al Jumu’ah : 9)

Yakni melangkah pergi ke masjid atau lapangan untuk menunaikan sholat Jum’at, bukan berjalan dengan tergesa-gesa.

Dan terkadang tidak terdapat dalil khusus tentang disyari’atkannya sarana tersebut semacam memisahkan harta yang ingin dizakati, membeli air untuk wudhu, akan tetapi hal tersebut memang dibutuhkan untuk tercapainya hal yang wajib.

2. Sarana dari hal yang sunnah adalah sunnah

Contoh : siwak ketika akan sholat dan memakai wewangian di hari Jum’at. Untuk melakukan dua hal tersebut, maka butuh untuk membeli siwak dan parfum. Maka membeli siwak dan parfum tersebut hukumnya adalah sunnah karena hukum dari tujuannya adalah sunnah. Dan kaidah ini berlaku untuk semua perkara yang dianjurkan syari’at.

3. Sarana terjadinya hal yang haram adalah haram

Contohnya adalah syirik akbar, yakni syirik dalam ibadah. Maka setiap perkataan atau perbuatan yang menjerumuskan kepada kesyirikan hukumnya haram. Begitu juga syirik ashghar dan segala sarana yang mengantarkan terwujudnya hal tersebut, seperti bersumpah dengan selain Allah Ta’ala jika pelakunya tidak mengagungkan sesuatu yang ia jadikan sumpah tersebut seperti mengagungkan Allah. Adapun jika seperti mengagungkan Allah, maka termasuk syirik akbar dan pelakunya keluar dari Islam.

Contoh lainnya yaitu berjalan untuk bermaksiat seperti zina (mulai dari berjalan mencari wanitanya sampai mencari hotelnya semua hukumnya haram), minum khomr, dan sejenisnya.

Atau berdua-duaan dengan wanita asing yang bisa menyebabkan terjadinya perbuatan keji meskipun berdua-duaan dalam rangka mengajari membaca Al Qur’an, atau safar berdua dengannya walaupun dalam rangka ibadah haji atau mengunjungi orang tua. Atau menyetir mobil bagi wanita yang bisa menyebabkan terjadinya mafsadat yang besar, maka menyetir mobil bagi wanita menjadi haram.[5]

4. Sarana dari hal yang makruh adalah makruh

Contohnya memegang sesuatu dengan tangan kirinya sehingga ia memegang kemaluannya dengan tangan kanan. Memegang kemaluan dengan tangan kanan adalah makruh sehingga sarana terjadinya hal ini –yakni memegang benda dengan tangan kiri- menjadi makruh juga.

و الله أعلم


[1] HR. Muslim (666). Hadits ini juga dalil bahwa sholat berjama’ah itu di masjid.

[2] Potongan hadits Riwayat Muslim (2699)

[3] Yang dimaksud “sarana tersebut memang diperintahkan” ialah harus ada indikator dalil yang menunjukkan disyari’atkannya hal tersebut atau alasan logika yang bisa diterima. Wallahu a’lam.

[4] Syarat tambahan untuk kaidah ini adalah bahwa sarana tersebut adalah satu-satunya sarana untuk tercapainya hal yang wajib. Jika ada banyak sarana untuk menunaikan hal yang wajib, maka tidak bisa kita katakan setiap sarana untuk hal yang wajib tersebut adalah wajib.

Contoh : berkunjung untuk shilaturahmi kepada orang tua. Untuk berkunjung kepada kedua orang tua bisa jadi dengan jalan kaki, naik motor, angkot, taksi, atau selainnya. Maka tidak bisa kita katakana jalan kaki, naik motor, angkot, taksi semuanya adalah wajib. Demikian penjelasan Ustadz Aris Munandar hafizhahullahu.

[5] Itu adalah fatwa ulama di Saudi. Akan tetapi pada asalnya hukum menyetir mobil adalah mubah sehingga wanita boleh mengendarai mobil sebagaimana fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I rahimahumallahu. Tapi jika bisa mengantarkan kepada mafsadat yang besar maka hukumnya menjadi haram.

Tag:

3 responses to “Hukum Suatu Sarana Tergantung Hukum Tujuannya”

  1. rio says :

    Asslamualaikum,,. Boleh mnt script animasi “CIRI-CIRI BUKAN TERORIS DIATAS???

    • ibnuabizakarya says :

      و عليكم السلام ورحمة الله
      Na’am akhi, ana tulis di tempat antum scriptnya
      و جزاك الله خيرا

  2. rio says :

    kalu boleh bls di Buku tamu Blog saya ya,.. Jzklah,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: