Hukum-hukum Syari’at

Syaikh Al Ushuly Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata:

Hukum-hukum yang terdapat di bab Fiqih ada lima:

1.       Wajib : Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggal mendapat dosa

2.       Haram : Kebalikan wajib

3.       Sunnah : Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggal tidak berdosa

4.       Makruh : Kebalikan sunnah

5.       Mubah : Sama-sama tidak diganjar apapun baik dikerjakan maupun tidak

Wajib sendiri terbagi menjadi dua :

1.      Fardhu ‘ain : Wajib dikerjakan oleh setiap mukallaf, yakni orang yang baligh dan berakal. Kebanyakan hukum wajib adalah jenis ini, yakni fardhu ‘ain

2.      Fardhu kifayah : Perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan oleh sebagian mukallaf, tidak setiap individu.

Contoh : belajar ilmu-ilmu yang mendetail, ilmu industri yang manfaat, adzan, amar ma’ruf dan nahi munkar, hukumnya fardhu kifayah

Dari pemaparan Syaikh As Sa’di atas, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan menjabarkan beberapa faedah yang kami simpulkan dalam beberapa poin di bawah ini:

1.       الاحكام adalah bentuk jamak dari حكم, yakni apa yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan syari’at yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, diantaranya perintah, memberikan pilihan dikerjakan atau tidak, atau hukum-hukum pada perkara tertentu (misalnya sah, batal, dll)

2.       Makna الواجب

Makna الواجب secara bahasa adalah الساقط (jatuh) dan اللازم (harus). Sedangkan secara istilah sebagaimana disebutkan di awal. Dan makna tersebut adalah penjelasan dengan metode bayanu ats-tsamarati wal hukmi karena ada 3 metode penjelasan:

a.       بيان الثمرة والحكم, yakni menjelaskan ganjaran perbuatan tersebut dan hukumnya

b.      بيان الحقيقة والماهية, yakni menjelaskan dengan hakikat nyatanya

c.       Menjelaskan hukum dengan menyebut contoh perbuatannya. Dan penjelasan dengan metode ini dinilai lebih tepat oleh ulama muhaqqiq (peneliti) karena hukum sesuatu itu adalah cabang dari contoh perbuatannya.

Adapun makna wajib dengan metode kedua adalah perbuatan yang dituntut oleh syari’at untuk dikerjakan dengan konteks wajib.

Contoh : sholat, zakat, puasa Ramadhan, berbakti pada orang tua, silaturahmi, jujur, dan selainnya.

3.       Makna الحرام

Secara bahasa الحرام bermakna الممنوع (terlarang). Secara istilah adalah jika dikerjakan berdosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

Makna haram dengan metode kedua adalah perbuatan yang dituntut oleh syair’at untuk ditinggalkan dengan konteks wajib.

Contoh : durhaka pada orang tua, isbal bagi laki-laki (‘alar rajih), ghibah, namimah, memendam permusuhan, hasad, dan sejenisnya.

Dan makna kalimat ‘haram adalah kebalikan wajib’ yakni hukum haram itu kebalikan dari hukum wajib. Adapun pengertian lain dari haram adalah kebalikan dari halal sebagaimana firman Allah :

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram” ” (QS. An Nahl : 116)

4.       Makna المسنون (perkara yang disunnahkan)

المسنون (perkara yang disunnahkan) dinamakan juga التطوع, النفل, المستحب, النافلة

Maknanya yakni perbuatan yang dituntut syari’at untuk dikerjakan tapi tidak wajib. Contohnya sunnah rawatib, bersiwak, membersihkan diri di hari Jum’at, dan sejenisnya. Barangsiapa yang mengerjakannya maka dia diberi pahala dan orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.

5.       Makna المكروه

Makna المكروه adalah perbuatan yang jika ditinggalkan diberi pahala dan orang yang mengerjakannya tidak berdosa.

Adapun pengertian makruh dengan metode kedua adalah perbuatan yang dituntut syari’at untuk ditinggalkan tapi tidak wajib.

Makna kalimat ‘makruh kebalikan sunnah‘ adalah yakni hukum makruh itu kebalikan dari hukum sunnah, sebagaimana hukum haram adalah kebalikan dari hukum wajib.

Contoh : menerima dan memberi dengan tangan kiri.

Dan setiap perkara yang diharamkan berubah hukumnya jadi makruh jika ada dalilnya. Contohnya menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat pipis menurut pendapat mayoritas ulama. Dan akan datang penjelasannya insya Allah.

6.       المباح (mubah)

Mubah adalah perbuatan yang diberikan pilihan oleh syari’at untuk dikerjakan atau ditinggalkan. Mubah tidak berkaitan dengan pujian bagi yang mengerjakannya maupun celaan bagi yang meninggalkannya, tidak pula berkaitan dengan perintah maupun larangan syari’at. Syari’at telah mengizinkan dan membolehkan perbuatan tersebut. Ini adalah hukum asal mubah berdasarkan sifatnya, yakni boleh.

Contoh : mandi untuk mendinginkan badan dan berjima’ di malam hari bulan Ramadhan.

Adapun status mubah yang berubah hukumnya menjadi wajib atau terlarang, akan ada penjelasannya nanti.

7.       Dengan meninjau orang yang mengerjakannya, wajib terbagi dua :

a.       Fardhu ‘ain

Yaitu kewajiban yang tidak bisa berubah hukumnya selama ada kemampuan dan tidak adanya kebutuhan darurat, setiap mukallaf dituntut untuk mengerjakannya.

Contoh : bersuci, sholat wajib 5 waktu, berbakti pada orang tua, silaturahmi, dan sejenisnya.

Maka, selama seseorang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya, maka wajib bagi dia untuk melaksanakannya. Adapun jika ada udzur, maka perlu dirinci tergantung jenis ibadahnya.

b.      Fardhu kifayah

Yakni perbuatan yang kewajiban untuk melaksanakannya gugur oleh perbuatan sebagian mukallaf yang mencukupi meskipun orang yang tidak ikut mengerjakannya memiliki kemampuan dan tidak ada kebutuhan mendesak. Karena yang dituntut di sini adalah terjadinya perbuatan tersebut oleh sebagian mukallaf, tidak oleh setiap mukallaf.

Contoh : mempelajari ilmu-ilmu yang mendetail, ilmu perindustrian yang manfaat, adzan, mengurus mayit dan mensholatinya, menjadi hakim, memberi fatwa, dan sejenisnya.

Tapi terkadang fardhu kifayah berubah hukumnya menjadi fardhu ‘ain semisal menjadi satu-satunya hakim di suatu negri, satu-satunya jago renang untuk menolong orang yang tenggelam, satu-satunya dokter untuk mengobati orang yang sakit, atau sejenisnya yang mengaruskan ada seseorang yang mengerjakan perbuatan tersebut walau pada asalnya perbuatan tersebut fardhu kifayah.

Dan insya Allah pembahasan selanjutnya seputar bertingkat-tingkatnya hukum-hukum syari’at (تفاضل الاحكام الشرعية).

و الله تعالى أعلم

Tag:

One response to “Hukum-hukum Syari’at”

  1. Iswanto says :

    Makasih mas. Saya mendapat pengetahuan yang berharga.
    Kunjungi blog saya
    http://blog.umy.ac.id/iswanto/;http://iswanto.staff.umy.ac.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: