Archive | Januari 2011

Pengertian Manthuq dan Mafhum

Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata :

Hukum-hukum syari’at terkadang disimpulkan dari manthuq-nya, yakni teks dalil yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu.

Dan terkadang diambil dari mafhum-nya, yakni (sesuatu yang dipahami dari makna dalil dan bukan dari teksnya-ed) yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu.

Dengan mafhum muwafaqoh jika mafhum-nya tersebut hukumnya sama dengan manthuq-nya atau lebih tinggi lagi.

Atau dengan mafhum mukholafah jika hukum mafhum-nya berlawanan dengan manthuq-nya. Bisa jadi karena manthuq dalil disifati dengan sifat tertentu atau diberi syarat dengan syarat tertentu lalu mafhum dalil menyelisihi sifat atau syarat yang ada pada manthuq sehingga hukum keduanya menjadi berbeda atau berlawanan. Baca Lanjutannya…

Larangan Mencela Waktu dan Berkata “Haram Bagimu Berbuat Ini!”

Kaum muslimin yang semoga dirahmat Allah, ketahuilah, diantara hal yang dilarang dalam Islam adalah mencela waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ عز و جل : يؤذيني ابَنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الأمر أقلب اللَّيْل وَالنَّهَار

“Allah berfirman : “Anak Adam menyakiti-Ku dengan mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, di tangan-Ku lah waktu dan Aku bolak-balikkan siang dan malam” [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Malik]

Dalam riwayat Imam Ahmad :

لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ أَنَا الدَّهْرُ الْأَيَّامُ وَاللَّيَالِي لِي أُجَدِّدُهَا وَأُبْلِيهَا وَآتِي و أبليها بِمُلُوكٍ بَعْدَ مُلُوكٍ

“Janganlah kalian mencela waktu, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman; ‘Aku adalah (pengatur) waktu, siang dan malam adalah milik-Ku, Aku perbaharui dan Aku pergilirkan, dan Aku datangkan para raja setelah para raja.” [HR. Ahmad. Ibnu Hajar berkata “sanadnya shahih” (Fathul Bari, 10/581)] Baca Lanjutannya…

Pengertian Nash dan Zhahir

Alhamdulillah, pelajaran ushul fiqih kali ini sudah sampai kepada pembahasan tentang kandungan makna dalam suatu lafazh atau teks dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. Di mana kandungan makna dalil suatu teks dalil ada dua jenis, yakni النص (nash) dan الظاهر (zhahir). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata:

Hukum-hukum syari’at terkadang diambil dari nash Al Qur’an dan As Sunnah, yakni teks dalil yang maknanya jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lainnya. Dan hukum syari’at terkadang diambil dari zhahir teks Al Qur’an dan As Sunnah, yakni teks yang menunjukkan pada suatu makna tertentu berdasarkan keumuman lafazhnya (‘umumul lafzhiy) atau berdasarkan keumuman maknanya (‘umumul ma’nawiy). Baca Lanjutannya…

Hukum Suatu Sarana Tergantung Hukum Tujuannya

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu mengatakan :

Dalam perkara mubah : sesungguhnya syari’at membolehkan dan mengizinkan perbuatan tersebut. Dan terkadang perkara mubah tersebut mengantarkan kepada kebaikan sehingga mubah digabungkan dengan perkara yang diperintahkan. Dan terkadang perkara mubah mengantarkan kepada keburukan sehingga digabungkan dengan perkara yang dilarang.

Maka ini adalah sebuah kaidah agung :

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum suatu sarana itu tergantung hukum tujuannya”

Dengan kaidah ini kita ketahui bahwa :

  • Sarana dari perbuatan wajib maka hukumnya adalah wajib.
  • Sarana dari perbuatan sunnah adalah sunnah.
  • Sarana terwujudnya suatu keharaman adalah haram.
  • Sarana dari perbuatan makruh adalah makruh. Baca Lanjutannya…

Bertingkatnya Hukum-hukum Syari’at

Kaum muslimin rahimakumullahu, insya Allah kita lanjutkan pelajaran ushul fiqih dari kitab Jam’ul Mahshul fi Syarhi Risalati Ibni Sa’di fil Ushul. Untuk mencari seluruh pelajaran dari pembahasan ini silakan lihat di tag “Jam’ul Mahshul” atau kategori “Ushul Fiqih”.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata :

Hukum-hukum syari’at yang lima ini (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang banyak tergantung keadaannya, tingkatannya, ataupun dampaknya. Perhatikan kaidah ini :

Jika ada suatu perbuatan yang memiliki mashlahat yang murni tanpa ada mafsadatnya ataupun mashlahatnya lebih banyak daripada mafsadatnya, maka syari’at memerintahkan perbuatan tersebut dengan perintah wajib ataupun sunnah.

Adapun jika perbuatan tersebut memiliki mafsadat yang murni tanpa ada mashlahatnya atau mafsadatnya lebih banyak daripada mashlahatnya, maka syari’at melarang perbuatan tersebut dengan mengharamkannya atau memakruhkannya.

Ini adalah kaidah yang meliputi seluruh perkara yang diperintahkan maupun yang dilarang. Baca Lanjutannya…

Hukum Bayar Zakat Sebelum Waktunya

الحديث السبعون بعد المائة

.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَقِيلَ : مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَ العَبَّاسُ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ تعالى. وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا فقَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَ أَعْتَادَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْعَبَّاسُ فَهِيَ عَلَيَّ وَ مِثْلُهَا

((ثم قال : ((يا عمر أمّا علمت أنّ عمّ الرجل صنو أبيه

“dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Umar untuk menarik zakat. Lalu dikatakan kepada Beliau bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Al Walid dan ‘Abbas paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau mengeluarkan zakat. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Ibnul jamil tidak berbuat salah kecuali dahulunya dia itu seorang faqir namun kemudian Allah Ta’ala menjadikannya kaya. Adapun Khalid, sungguh kalian telah menzhalimi Khalid, padahal dia telah mewakafkan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk berjuang di jalan Allah. Adapun ‘Abbas maka aku yang akan menanggung zakatnya dan juga kewajiban lain serupa zakat (sebagai kemuliaan) “.

Kemudian beliau berkata : “Ya Umar, tidak tahukah engkau bahwa paman seseorang itu seperti ayahnya”[1] Baca Lanjutannya…

Hukum-hukum Syari’at

Syaikh Al Ushuly Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata:

Hukum-hukum yang terdapat di bab Fiqih ada lima:

1.       Wajib : Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggal mendapat dosa

2.       Haram : Kebalikan wajib

3.       Sunnah : Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggal tidak berdosa

4.       Makruh : Kebalikan sunnah

5.       Mubah : Sama-sama tidak diganjar apapun baik dikerjakan maupun tidak

Wajib sendiri terbagi menjadi dua :

1.      Fardhu ‘ain : Wajib dikerjakan oleh setiap mukallaf, yakni orang yang baligh dan berakal. Kebanyakan hukum wajib adalah jenis ini, yakni fardhu ‘ain

2.      Fardhu kifayah : Perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan oleh sebagian mukallaf, tidak setiap individu.

Contoh : belajar ilmu-ilmu yang mendetail, ilmu industri yang manfaat, adzan, amar ma’ruf dan nahi munkar, hukumnya fardhu kifayah Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: