Belajar Ushul Fiqih

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله, نحمده على ما له من الاسماء الحسنى, و صفات الكاملة العليا, و على احكامه القدرية العامة لكل مكون موجود, , احكامه الشرعية الشاملة لكل مشروع, و احكامه الجزاء باثواب للمحسنين, و العقاب للمجرمين.

و اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له في الاسماء و الصفات و العبادة و الاحكام, و اشهد ان محمدا عبده و رسوله الذي بين الحكم و الاحكام, و وضح الحلال و الحرام, و اصل الاصول و فصلها, حتى استتم هذا الدين و استقام, اللهم صل و سلم على محمد و على اله و اصحابه و اتباعه, خصوصا العلماء الاعلام.

اما بعد : فهذه رسالة لطيفة في اصول الفقه, سهلة الالفاظ, واضحة المعاني, معينة على تعلم الاحكام لكل متامل معاني, نسال الله ان ينفع بها جامعها و قارئها, انه جواد كريم.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya atas nama-nama-Nya yang terindah, sifat-sifat-Nya yang sempurna lagi tinggi, atas hukum-hukum qadariyyah yang bersifat umum yang mencakup semua makhluq yang ada, dan atas hukum-hukum syari’at yang meliputi segala hal yang disyari’atkan, dan atas hukum-hukum tentang balasan suatu amal dengan pahala bagi muhsinin dan balasan berupa hukuman bagi orang-orang yang berdosa.

Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam nama-Nya dan juga sifat-Nya, dan juga dalam ibadah, dan juga tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kewenangan dalam menetapkan hukum. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang mnejelaskan hikmah-hikmah dan hukum-hukum, menerangkan halal dan haram, meletakkan dasar-dasar hukum dan merincinya, sehingga sempurnalah agama ini dan tegak berdiri di atasnya. Semoga Allah menyanjung dan memberikan salam kepada Nabi Muhammad dan juga keluarganya, shahabatnya, dan pengikutnya khususnya para ulama yang mana mereka ibarat rambu-rambu dalam kehidupan ini.

Amma ba’du : ini adalah risalah yang ringkas tentang ushul fiqih, kalimatnya mudah dipahami, jelas maknanya, membantu setiap orang yang mau merenungkan dan memperhatikan untuk mempelajari berbagai hukum. Kami mohon kepada Allah agar memberikan manfaat orang yang menulisnya dan yang membacanya dengan sebab risalah ini. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Mulia.

Itulah muqoddimah kitab Risalah fi Ushul Fiqhi yang ditulis oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu Ta’ala, seorang ulama pakar fiqih, ahli ushul, ahli tafsir, dan juga guru dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala. Beliau wafat pada tanggal 22 Jumadil Akhir 1376 H pada hari kamis di pagi hari dan disholatkan setelah sholat zhuhur, semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.

Berikut adalah faidah yang dapat kita ambil berdasarkan syarah (penjabaran) Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan hafizhahullahu terhadap muqaddimah Syaikh As Sa’di:

1.       Beliau memulai kitabnya dengan basmalah dalam rangka meneladani kitabullah, Al Qur’an Al ‘Azhim yang dimulai dengan basmalah dan dalam rangka mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2.       Makna بسم الله adalah dengan menyebut semua nama Allah Ta’ala.[1]

3.       الرحمن maknanya adalah pemilik kasih saying yang luas. Ini adalah nama yang khusus bagi Allah Ta’ala saja, tidak boleh digunakan untuk selain-Nya.

4.       الرحيم maknanya adalah merahmati orang yang dikehendakinya. Nama ini tidak khusus bagi Allah saja, boleh digunakan untuk selain-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At Taubah : 128)

5.       Hukum-hukum dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ada tiga jenis:

  • a.       احكام القدرية (Ahkamul Qadariyyah), yakni ketetapan yang terjadi di alam ini yang berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dunia, misalnya penciptaan, rizki, hidup, mati, memuliakan, menghinakan, miskin, kaya, dan sejenisnya
  • b.      احكام الشرعية (Ahkamusy Syar’iyyah), yakni ketetapan yang berkaitan dengan setiap mukallaf seperti Ahkamul ‘Ilmiyyah dan ‘Amaliyyah[2]
  • c.       احكام الاخروية (Ahkamul Ukhrowiyyah), yakni ketetapan yang berkaitan dengan kampung akhirat, seperti balasan dari suatu amal, baik pahala maupun hukuman.

6.       اشهد maknanya adalah aku bersaksi dalam hatiku dan aku katakan dengan lisanku kalimat لا اله الا الله yakni “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Terdapat beberapa poin penting berkaitan dengan kalimat tauhid ini, diantaranya:

–          Makna لا اله الا الله adalah لا معبود حقّ الا الله yakni “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah”

–          Khobar Laa Nafiyyah itu mahdzuf (dihapus), takdirnya حقّ (yang haq), sedangkan Lafzh Jalalah الله adalah badal dari حقّ

–          وحده adalah haal, dan ditinjau dari segi makna ia adalah taukid lil itsbat bahwasanya sesembahan yang haq hanyalah Allah semata saja

–          لا شريك له adalah taukid lin nafyi bahwasanya benar-benar tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah

7.       Syahadat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘ubudiyyah (penghambaan) dan risalah, bahwasanya beliau adalah seorang hamba yang butuh kepada Rabbnya, beliau berdo’a kepada-Nya, berharap dan takut kepada-Nya, sehingga hal ini berkonsekuensi bahwa beliau tidak berhak untuk memiliki sifat-sifat rububiyyah (ketuhanan) karena sifat rububiyyah hanya Allah Ta’ala sajalah berhak memilikinya. Dan beliau juga tidak berkuasa mendatangkan manfaat ataupun menolak bahaya baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain karena hanya Allah yang berhak untuk hal tersebut.[3]

8.       Aali Muhammad (keluarga Muhammad) adalah kerabat dekat beliau yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan shahabat beliau adalah orang-orang yang pernah berkumpul (meskipun tidak melihat atau buta) dengan beliau dalam keadaan beriman dan juga mati dalam keadaan beriman.


[1] Maka jika basmalah diartikan dengan “Dengan menyebut nama Allah” maka ini masih belum sempurna, tetapi secara umum sudah benar

[2] Ahkamul ‘Ilmiyyah yakni hukum-hukum aqidah yang harus diyakini, sedangkan ahkamul ‘amaliyyah berkaitan dengan hukum-hukum fiqih

[3] Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita cintai melebihi seluruh manusia di dunia ini termasuk diri kita sendiri, wajib ditaati dan wajib membenarkan apa yang datang dari sisi beliau

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: