Meraih Kesempurnaan Tauhid

tawheed3

الحمد لله الذي لم يتخذ ولدًا ولم يكن له شريك في الملك ولم يكن له وليٌّ من الذل وكبره تكبيرًا .

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له . وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم تسليمًا كثيرًا . أما بعد

Tauhid merupakan kunci kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Para rasul ‘alayhimus shalatu wa sallam semuanya diutus untuk mendakwahkan tauhid kepada umatnya agar umatnya hanya beribadah kepada Allah Ta’ala saja. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut’” (QS. An Nahl : 36)

Dengannya, seseorang akan terbebas dari kekalnya siksa neraka dan akan merasakan nikmatnya surga. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dengan benar, maka ia akan masuk surga sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,

من مات و هو يعلم انّه لا اله الا الله دخل الجنة

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan yakin bahwa tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah, maka ia masuk Jannah” (HR. Muslim I/41)

Berkata Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullahu, “Bahwasanya tauhid ini adalah kewajiban pertama, yang terpenting dari yang penting, dan Allah tidak menerima satu agama pun selainnya (yaitu tauhid-pen)” (Al Mu’taqadu Ash Shahih hal. 29, Maktabah Al Furqan). Maka wajib bagi setiap muslim untuk memahami makna tauhid dengan benar agar tidak terjatuh ke dalam penyimpangan-penyimpangan dalam memahami makna tauhid seperti kelompok sufi, jahmiyah, mu’tazilah, atau lainnya. Maka, ahlussunnah ketika membahas tentang tauhid, maka tauhid yang dibahas mencakup tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat.

Pembagian tauhid menjadi tiga bukanlah berasal dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang. Para ulama sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membagi tauhid menjadi tiga (sebagian ulama membaginya menjadi dua meski hakikatnya sama dengan yang tiga  semacam Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah yang membagi tauhid menjadi dua, yaitu Tauhidul Ma’rifat wal Itsbat dan Tauhid fit Thalabi wal Qashdi) seperti yang diisyaratkan dari ulama salaf semacam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Mandah, Imam Ibnu Bathol, Imam Ath Thahawi rahimahumullahu.

Akan tetapi pembagian ini berasal dari dalil-dalil Al Qur’an yang menunjukkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga. Para ulama menetapkan pembagian tauhid ini dengan meneliti dalil-dalil yang terdapat dalam Al Qur’an dari awal surat sampai surat yang terakhir. Maka firman Allah Ta’ala dalam masalah tauhid dalam kitab-Nya mencakup tiga jenis tauhid ini, yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Hal ini dapat kita misalkan sebagaimana para ahli nahwu membagi kata dalam bahasa arab menjadi tiga, yaitu isim, fi’il, dan huruf. Dari mana para ahli bahasa tersebut menetapkan pembagian ini? Jawabannya dari penelitian terhadap kata-kata yang diucapkan oleh orang arab sehingga para ahli bahasa menyimpulkan bahwa kata yang biasa diucapkan oleh orang arab tidak lepas dari tiga kelompok, yaitu isim, fi’il, dan huruf.

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang paling mulia di dalam Al Qur’an,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar” (QS. Al Baqarah : 255)

Dalam ayat yang paling mulia ini, Allah Ta’ala menyebutkan tiga jenis tauhid sekaligus. Firman-Nya [اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ] mengandung tauhid uluhiyah. Sedangkan [الْحَيُّ الْقَيُّومُ] mengandung tauhid asma’ wa shifat, dan firman-Nya [لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ] mengandung tauhid rububiyah. Berkata Syaikh Abdurrohman As Sa’di rahimahullah, “Maka sungguh ayat ini mencakup tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat” (Taisir Karimir Rahman hal. 94, Dar Ibnu Hazm) .Dan ayat atau surat lainnya yang semisalnya seperti surat Al Fatihah yang isinya mengandung tiga jenis tauhid ini.

Dan diantara hubungan antara tauhid rububiyah dengan tauhid uluhiyah adalah bahwa tauhid rububiyah menuntut/melazimkan adanya tauhid uluhiyah. Berkata Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah, “Dan hubungan antara kedua tauhid ini (rububiyah dan uluhiyah-pen) yaitu bahwasanya tauhid rububiyah melazimkan adanya tauhid uluhiyah. Maknanya yaitu pengakuan terhadap tauhid rububiyah mewajibkan adanya pengakuan terhadap tauhid uluhiyah dan beramal dengannya” (Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad hal. 35, Darus Shahabah).

Hubungan yang lainnya yaitu siapa yang meyakini dan mengamalkan tauhid uluhiyah otomatis mengakui tauhid rububiyah, sedangkan yang meyakini tauhid asma’ wa shifat otomatis mengakui tauhid rububiyah dan menuntut kepada tauhid uluhiyah. Maka barangsiapa yang mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Yang menciptakan dirinya dan seluruh alam semesta, maka wajib baginya untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu” (QS. Al Baqarah : 21)

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata mengenai ayat ini, “Ayat ini mengumpulkan antara perintah beribadah kepada Allah semata dan larangan beribadah kepada selain-Nya, dan pemaparan dalil yang jelas pada wajibnya beribadah hanya kepada-Nya, dan batalnya ibadah kepada selain-Nya. Dan Allah menyebutkan tauhid rububiyah yang mengandung makna keesaan dalam penciptaan, memberi rizki, dan mengatur alam semesta. Maka jika setiap manusia mengakui bahwasanya tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal-hal tersebut, maka sudah seharusnya dia juga mengakui bahwasanya tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah” (Taisir Karimir Rahman hal. 31, Dar Ibnu Hazm).

Lalu lihatlah juga betapa pentingnya keyakinan yang benar terhadap tauhid asma’ wa  shifat sehingga Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam membebaskan budak wanita karena keimanan yang benar terhadap shifat Allah Tabaraka wa Ta’ala sebagaimana yang terdapat dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).

Maka seseorang dikatakan telah merealisasikan kalimat tauhid jika terpenuhi tiga poin :

  1. Mengetahui maknanya, yaitu mengetahui konsekuensinya
  2. Beramal dengan konsekuensinya, yaitu mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan kufur kepada kesyirikan
  3. Berdakwah (menyeru) kepadanya

Maka barangsiapa yang terpenuhi tiga poin di atas, otomatis akan tumbuh sifat cinta kepada ahli tauhid dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Dan sebagai penutup, saya bawakan perkataan Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu, “Barangsiapa yang mengucapkannya (Laa ilaaha illallahu-pen) dengan mengetahui maknanya, mengamalkan kandungannya, baik secara bathin maupun zhahir, maka pasti ia mengucapkan syahadatain dari ilmu dan keyakinan, dan beramal dengan apa yang ditunjukannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS. Muhammad : 19)

Dan firman-Nya,

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini” (QS. Az Zukhruf : 86)

Adapun mengucapkannya dengan tidak mengetahui maknanya dan tidak meyakininya serta tidak mengamalkan kandungannya, yaitu berlepas diri dari kesyirikan, ikhlas pada perkataan dan perbuatannya – perkataan hati dan lisan, dan amalan hati dan anggota badan – maka tidaklah bermanfaat (kalimat tersebut baginya-pen) dengan ijma’” (Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid hal. 39, Darus Salam). Wallahu a’lam.

Tanggal kajian : 16 Mei 2010

Tema kajian      : Meraih Kesempurnaan Tauhid

Pemateri            : Ust. Abu Qatadah hafizhahullahu

Tempat               : Masjid Ma’had Syaikh Jamilurrahman As Salafi

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: