Pengertian Nash dan Zhahir

Alhamdulillah, pelajaran ushul fiqih kali ini sudah sampai kepada pembahasan tentang kandungan makna dalam suatu lafazh atau teks dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. Di mana kandungan makna dalil suatu teks dalil ada dua jenis, yakni النص (nash) dan الظاهر (zhahir). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullahu berkata:

Hukum-hukum syari’at terkadang diambil dari nash Al Qur’an dan As Sunnah, yakni teks dalil yang maknanya jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lainnya. Dan hukum syari’at terkadang diambil dari zhahir teks Al Qur’an dan As Sunnah, yakni teks yang menunjukkan pada suatu makna tertentu berdasarkan keumuman lafazhnya (‘umumul lafzhiy) atau berdasarkan keumuman maknanya (‘umumul ma’nawiy).

Syaikh Abdullah Al Fauzan hafizhahullahu menjelaskan perkataan syaikh di atas dan kami simpulkan dalam beberapa poin berikut :

Lafazh atau teks suatu dalil ditinjau dari kandungan maknanya (penunjukkannya) ada dua jenis:

1. Yang hanya menunjukkan pada satu makna disebabkan teks dalilnya jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lainnya, tanpa tergantung kepada factor lainnya, dan makna yang ditunjukkan teks tersebut memang maksud asli teks tersebut. Inilah yang disebut nash.

Secara bahasa nash berarti tampak atau naik ke puncak yang seharusnya.

Contoh nash dalam Al Qur’an atau As Sunnah:

a. Firman Allah Ta’ala :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” (QS. Al Ma’idah : 38)

Ayat ini adalah nash tentang hukuman bagi pencuri dalam Islam, yakni potong tangan. Ayat ini tidak memiliki makna lain selain makna ‘potong tangan’ tersebut. Dan inilah maksud asli ayat tersebut.

b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ya Rasulullah, kami mengarungi lautan, dan kami hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah kami berwudhu dengan air laut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هو طهور ماؤه الحل ميتته

Air laut itu suci dan halal bangkainya” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’I, Ibnu Majah. At Tirmidzi mengatakan : “hadits hasan shahih”)

Maka sabda Nabi : “Air laut itu suci” adalah nash tentang sucinya air laut. Dan dari konteksnya, inilah maksud asli lafazh tersebut.

Hukum nash : wajib beramal dengannya selama tidak ada dalil shahih untuk memalingkan maknanya, atau men-takhshishnya, atau men-taqyidnya, atau di naskh[1] pada saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup.

2. Jenis kandungan makna yang kedua adalah zhahir.

Secara bahasa zhahir bermakna : sesuatu yang jelas, kebalikan dari samar.

Secara istilah zhahir bermakna seperti yang disebutkan Syaikh As Sa’di rahimahullahu di atas, yakni teks dalil yang menunjukkan pada suatu makna tertentu jika dilihat dari keumuman lafazhnya (‘umumul lafzhiy) atau jika dilihat dari keumuman maknanya (‘umumul ma’nawiy).

Dan yang dimaksud dari pengertian zhahir di atas adalah bahwasanya zhahir adalah sesuatu yang maksudnya jelas berdasarkan dalil itu sendiri tanpa tergantung factor eksternal lainnya akan tetapi mengandung kemungkinan makna lain yang lemah disebabkan keumuman lafazhnya atau keumuman maknanya.

Dan yang dimaksud dengan ‘umumul lafzhiy (keumuman lafazh) adalah hukum yang ditetapkan dengan cara melihat teks dalilnya. Maka makna teksnya memang  umum, bisa bermakna ini dan bisa bermakna itu.

Sedangkan ‘umumul ma’nawiy (keumuman makna) adalah makna umum yang disimpulkan dengan cara qiyas. ‘Umumul ma’nawiy disebut juga dengan ‘illah. Dan jika hadits mengandung ‘illah, maka hadits tersebut mengandung ‘umumul ma’nawiy. ‘Umumul ma’nawiy adalah makna yang ada pada kasus pokok dan kasus cabang. Karena yang namanya zhahir harus memiliki dua makna atau lebih, dan ini termasuk kategori umum.

Contoh : hadits Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang berwudhu karena makan daging onta, beliau bersabda :

(توضأوا منها….الحديث)

“Berwudhulah karenanya…” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan hadits semakna yang diriwayatkan oleh Muslim)

Zhahir hadits menunjukkan bahwasanya yang dimaksud dengan “Berwudhulah karenanya” adalah membasuh empat anggota wudhu karena wudhu adalah perintah syari’at. Dan pembicaraan syari’at dibawa ke makna syar’inya. Dan makna tersebut tidak dipalingkan ke makna lain semisal wudhu dengan makna membersihkan kecuali ada dalilnya. Akan tetapi tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Maka hadits ini termasuk zhahir karena memiliki dua kemungkinan makna dengan makna yang kuat adalah makna yang pertama.

Hukum zhahir : wajib beramal dengan zhahir dalil kecuali ada dalil yang memalingkannya ke makna lainnya karena inilah jalan yang ditempuh para salafush shalih umat ini, dan ini lebih hati-hati.

و الله أعلم


[1] Takhshish (pengkhususan), taqyid (pengaitan dengan sifat tertentu), dan naskh (penghapusan) insya Allah akan dipelajari pada bab-bab selanjutnya

5 sifat wajib, sunah, mubah, makruh, haram
About these ads

Tag:

Trackbacks / Pingbacks

  1. Pengertian Nash dan Zhahir « PADIStudio - Oktober 24, 2012

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: